Tampilkan postingan dengan label Ruang Drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ruang Drama. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Juli 2010

Genderang Perang Melawan Bisu

Andre GB



Panggung lengang. Keadaan di sekitar panggung gelap. Kecuali sebuah lampu yang berada di tengah dalam keadaan menyala. Lampu menyorot sebuah tubuh di tengah panggung. Orang I berdiri dengan kaki mengangkang dan tangan berada di pinggang. Tegak memandang penonton sambil tersenyum. Pahit. Posisi badan mematung. Hanya leher yang menggerakkan kepala menebarkan pandang ke seantero penonton. Terus memandang tanpa suara.

Beberapa saat kemudian. Dari kegelapan di sudut kanan panggung terdengar tabuhan tambur. Semakin lama semakin keras dan terdengar semakin dekat. Orang II masuk ke atas panggung dengan menenteng tambur yang terus ditabuh dengan ritme tetap. Tidak terlalu cepat, tidak juga terlalu lambat. Terus menabuh sembari mencari posisi duduk yang nyaman di samping kanan orang I. Tabuhan tambur terus berlangsung.

Orang I terkejut dan menunjukkan gelagat tak suka. Menutup telinga rapat-rapat dengan menggunakan kedua tangan.

Orang II terus menabuh tambur.

Orang I tak tahan lagi. Menoleh dengan tajam pada Orang II yang masih terus menabuh tambur. Orang I hilir mudik di belakang Orang II sembari terus menutup telinganya. Orang II terus menabuh tambur. Semakin lama semakin cepat dan semakin keras. Semakin tegang.

Orang I tiba-tiba merampas tongkat pemukul tambur yang digunakan Orang II. Tabuhan berhenti. Tongkat dilemparkan ke arah penonton. Tambur dirampas dari Orang II kemudian dilempar kebelakang. Setelah itu. Orang II diseret keluar dari panggung.

Orang I kembali ketengah panggung dengan posisi awal.

Untuk beberapa menit keadaan sunyi kembali.

Orang II masuk kembali. Menenteng tambur yang baru dengan tongkat pemukul yang baru. Kembali menabuh tambur. Kali ini tabuhannya mulai dengan cepat. Semakin lama semakin cepat sembari mendekati Orang I yang menunjukkan mimik terkejut dan tak suka dengan kedatangan Orang II.

Orang I kembali merampas tongkat pemukul. Kali ini, Orang II melakukan penolakan. Saling tarik menarik terjadi dan kemenangan masih ada di pihak Orang I. Tongkat pemukul di buang lempar ke arah depan. Tambur juga ikut dirampas oleh Orang I. Kemudian diletakkan dibawah kaki kiri sebagai tempat pijakan. Orang II keluar.

Orang I tersenyum bangga dengan kemenangan ini. Senyum lebar. Keadaan sunyi kembali untuk beberapa saat.

Tiba-tiba terdengar tabuhan tambur lagi yang semakin ramai. Orang II masuk kembali ke atas panggung. Tapi tak sendiri. Orang III juga masuk dengan menabuh tambur.

Orang I terkejut dan bingung. Ada dua tambur yang sedang di tabuh. Lalu dengan panik segera melakukan usaha merampas tambur dan tongkat pemukul Orang II agar tabuhan tambur berhenti. Orang II melakukan upaya perlawanan. Tapi tetap kalah. Tambur berhasil dirampas. Sementara itu, tabuhan tambur Orang III terus berlangsung. Orang II keluar setelah tambur dan tongkat pemukul berhasil dirampas. Orang I berusaha merebut tambur dan tongkat pemukul Orang III. Terjadi perlawanan. Tarik menarik dan paksa memaksa sementara berlangsung. Keadaan sedikit imbang.

Orang II masuk lagi. Kali ini menabuh sepotong seng. Tabuhan semakin cepat dan semakin keras. Orang I terkejut. Tambur dan tongkat pemukul belum sempat dirampas dari Orang III.

Dari belakang masuk orang IV, V dan VI. Menabuh berbagai benda. Tabuhan semakin cepat dan keras. Orang I semakin kebingungan. Berusaha mendekati dan merebut benda-benda yang ditabuh. Tapi tak mudak karena orang-orang melawan.

Dari belakang, masuk lagi sekumpulan orang dengan berbagai benda yang juga ditabuh. Semakin keras dan cepat. Semakin ramai.

Orang I semakin panik. Berusaha menutup keras-keras telinganya. Kebingungan. Berusaha merampas tapi tak kuat karena lawan semakin banyak. Suara tabuhan terus terdengar. Semakin keras dan lebih keras lagi.

Akhirnya, Orang I tak tahan dengan suara ribut dari berbagai benda yang ditabuh. Teriakannya menggema panjang sembari berlari keluar dari atas panggung.

Orang-orang yang tersisa terus menabuh tambur dan benda-benda lain. Pesta perayaan atas kemenangan. Kemudian perlahan-lahan keluar dari atas panggung. Tabuhan terus terdengar.

Lampu padam.


Februari 2007

Suatu Waktu Dalam Hidup Seorang Aktor

Fredy Sreudeman Wowor




( Pada bagian TENGAH BELAKANG berdiri ORANG I, ORANG II, dan ORANG III sambil membelakangi penonton. Tubuh mereka dicat dalam motif tembok untuk beberapa waktu lamanya ini berlangsung mereka berfungsi sebagai latar. Pada bagian TENGAH panggung duduk ORANG IV sambil memeluk lutut.
Cahaya perlahan-lahan menyelimuti panggung. Awalnya cahaya tersebut menyinari sosok-sosok yang telah berada diatas panggung. Kemudian menyinari ke arah samping kiri samping kanan yang berfungsi sebagai pintu masuk dari ORANG V dan ORANG VI )

ORANG V
( Masuk dan mengambil tempat disamping orang IV )
Setengah bungkus rokok ? Lumayan, dari pada tidak sama sekali
( Menyalakan sebatang rokok dan dihirup dalam-dalam. Matanya
menerawang jauh kedepan )

ORANG VI
( Masuk dan mendapati ORANG V lagi menghisap rokoknya
dengan pandangan menerawang )
Selamat……!

ORANG V
( Kecut mencoba menawarkan rokok )
Rokok……..?

ORANG VI
( Latah menjawab dalam kegagapan )
Rokok, eh… tidak ! Maaf saya tidak merokok !!
Terima kasih !!!

ORANG V
( Gembira rokoknya tidak berkurang / basa basinya tidak
ditanggapi serius ORANG VI )
Tidak merokok ?!... Selamat !

ORANG VI
Kenalkan, saya Aktor cabutan dari teater KRONIS.

ORANG IV
( Terusik perhatiannya begitu mendengar kata AKTOR…! )

ORANG V
Ooh, Aktor ?! Bagus…! Pasti lagi Observasi ya ?

ORANG IV
( Makin terusik perhatiannya mendengar kata… AKTOR dan
OBSERVASI )

ORANG VI
Kok, tahu ?

ORANG V
Jelas tahu. Saya dulu kan pernah disuruh mengamati bagaimana tingkah prajurit sisa perang yang
bergelandang di jalan raya tanpa sadar bahwa negeri yang diperjuangkannya itu ternyata tidak
merdeka. Bisa kamu bayangkan, hampir tiga bulan lamanya saya kelayapan di jalanan kayak orang
gila.

ORANG VI
Wah, rupanya bung juga seorang Aktor !

ORANG IV
(Kian terusik perhatiannya mendengar kata AKTOR terus disebut)

ORANG V
Tapi…..

ORANG VI
Tapi kenapa ?

ORANG V
Sayang…..

ORANG VI
( Makin ingin tahu)
Sayang bagaimana !?

ORANG V
Pementasan itu dibatalkan.

ORANG VI
Dibatalkan ?! Mengapa !?

ORANG V
Karena naskah yang dipentaskan itu termasuk dalam kategori DILARANG PEMERINTAH. Tiga tahun aku dibui, istriku diperkosa tentara,yang datang menyuluhkan program bersih lingkungan. Dan istriku bunuh diri dihadapanku selepas aku dari penjara.

ORANG VI
( Terpaku tanpa kata lagi )

ORANG V
Oya, bukankah bung datang untuk observasi ?
( Mengarah pandangan ke ORANG IV )

ORANG V
( Mengikuti pandangan ORANG VI )

ORANG IV
( Dalam puncak keterusikannya )
Aktor, hah ?!

ORANG VI
( Melempar pandangan kedepan dengan cepat bersama dengan ORANG V )
Dia tahu…..

ORANG IV
Datang mengamati saya…!

ORANG IV
( Bersama ORANG V )
Dia tahu diamati….

ORANG V
( Bersama ORANG VI )
Dia tahu diamati…..

ORANG IV
Mengapa mesti saya ? Mesti saya ? Mengapa… mengapa !
( Merintih kegeraman )
Mengapa mesti saya !?

ORANG I, II, III
( Sama-sama membalikkan tubuhnya dengan cepat )

ORANG V dan VI
( Tegang dalam kecemasan )
Dia tahu…..

ORANG I, II, III
( Membuka kaca mata hitam bersama-sama )

ORANG IV
( Mengamuk kesetanan )
Mengapa mesti saya… mengapa mesti saya… mesti saya?
Mengapa ?!

ORANG V dan VI
( Sama-sama panik dan saling memeluk )
Dia… dia… dia… !

ORANG IV
( Kaku meradang tanpa kata )
Akh…..

ORANG II dan III
( Berlari kebingungan dan keluar )
Dokter… dokter… dokter… !

ORANG IV
( Terlompat marah )
Biarkan aku… ! Biarkan…Aktor !
( Mencemooh
Aktor kampungan !
( Tidak sanggup meneruskan )
Kampung…. ( Muntah )

ORANG I
( Berlari kebingungan dan keluar )
Gila… gila… gila… ini tidak mungkin !

ORANG V dan VI
( Sama-sama keluar dan berkata )
Gila…

ORANG IV
( Tertinggal sendirian dan berkata )
Gila ?
Aku tidak gila !
Aku hanya memainkan peranku sebagai seorang Aktor !?


***** TAMAT *****

Metamorcrazy (Sebuah Parodi Gelap Terang)

Dean Joe Kalalo




BABAK I

Sesosok lelaki Di tengah panggung. Wajahnya penuh dengan warna kesesatan. Mengarahkan pandangan dengan tatapan hendak menerkam mangsanya. Sebuah meja, di atasnya sebuah kitab, Laptop dan LCD proyektor. Sebuah tempayan di salah satu sudut panggung.

DARKONIA
Telah beribu-ribu purnama cinta terantai oleh dosa. Telah berjuta-juta detak langit terlindas gelimang darah. Dan waktu tercerabut dari sang khalik. Telah berlimpah-limpah airmata memuai menjadi nisan, menjadi monumen kesedihan yang purba. Kematian dan kekalahan memenjarakan detak nafas sang rahim zaman. Dan kemuliaan... kini terpahat dalam jantungku..
(berdiri meraih janin yang berlumuran darah di dalam tempayan) Kebenaran,.. adalah anak haram yang tak akan pernah dilahirkan
Baltasar....

Baltasar memasuki panggung.

DARKONIA
Laporkan hasil kerja para prajurit sepanjang seratus menit terakhir

BALTASAR
baik yang mulia.

Baltasar memasukkan Flash disk ke dalam Laptop. Proyektor menampilkan gambar Seseorang mati terbunuh..

BALTASAR
Di negara kawasan selatan Asisten III komandan Brigade pencabut nyawa berhasil membujuk seorang istri menikam suaminya ketika sedang buang air besar(mengganti gambar proyektor, layar menampilkan dua orang berpakaian rapi sedang transaksi uang) Di negara bagian timur asisten I komandan Brigade keserakahan tanpa perlu bersusah payah berhasil merayu seorang penegak hukum menerima suap dari koruptor. (Mengganti gambar proyektor, layar menampilkan gambar sesosok banci yang tengah melirik sesuatu di balik celananya dengan ekspresi gembira) di negara bagian barat asisten VII komandan brigade kelamin dengan mudahnya membujuk seorang waria untuk menghilangkan alat vitalnya. (Mengganti gambar proyektor, layar menampilkan gambar seorang anak kecil yang menangis sedih) di negara bagian utara asisten V komandan brigade pencabulan berhasil membujuk seorang kakek berusia tujuh puluh tahun memperkosa gadis kecil berumur tujuh tahun..

DARKONIA
Dunia kegelapan,.. bukan milik neraka saja. Perlahan-lahan aku telah berhasil menciptakan dinasti kegelapan kedua di atas bumi. Tanah, air, udara dan cakrawala, semuanya tunduk di bawah telapak kaki ku. Akulah sang penguasa akhir zaman.

BALTASAR
Tidak sesulit yang dibayangkan sebelumnya yang mulia. Ketika zaman beranjak tua manusia semakin mudah disesatkan. Bahkan, tanpa campur tangan kita mereka telah memilih menjadi sesat.

DARKONIA
Bangunlah, bangunlah rumah ibadah semegah dan sebanyak mungkin, bangunlah monumen-monumen kematian itu. Yang pasti hati kalian akan selalu terjebak dalam cengkramanku. Lakukan kembali pengawasan,. Dan segera laporkan padaku bila ada keberhasilan-keberhasilan baru yang mengejutkan.

BALTASAR
Dengan senang hati yang mulia (mengambil Flash disk dan segera berlalu dari panggung)

Sang sesat II memasuki panggung sambil memapah sang sesat I yang lemah sekarat. Mereka berjalan sambil tergopoh.

SANG SESAT I
Yang mulia,.. yang mulia... jantungku... jantungku hangus terpanggang.

SANG SESAT II
Kilatan petir yang dahsyat menghanguskan jantungnya yang mulia

SANG SESAT I
Ampun yang mulia, untuk kabar yang mengejutkan ini. Kabar duka bagi kerajaan kita.

DARKONIA
Apa gerangan kabar yang bisa menggentarkan tahtaku?



SANG SESAT II
Perisai-perisai logam yang memayungi kerajaan jebol yang mulia..

DARKONIA
Kenapa sampai begitu?

SANG SESAT I
Masih simpang siur yang mulia..

SANG SESAT II
Ini bencana,.. ini bencana... kerajaan kita bisa hancur

DARKONIA
Hancur katamu? Baca kembali kitab kegelapan pasal 23 ayat I dan II, laksanakan!!

SANG SESAT II
(membuka kitab di atas meja lalu membacanya)
Pasal 23 ayat I: rezim kegelapan tak akan pernah bisa dikalahkan. Pasal 23 ayat II: Jika terdapat pihak yang coba-coba ingin mengalahkan rezim kegelapan mohon ricek kembali ayat I.

DARKONIA
Jangan mengada-ada, periksa kembali jangan-jangan ada beberapa mantra yang luput difungsikan. Bagaimana dengan mantra empat mata angin?

SANG SESAT I
Tentu yang mulia, mantra itu tak pernah luput kami gumamkan ketika matahari mulai nampak.

DARKONIA
Atau jangan-jangan ada dari kita yang berkhianat dan membocorkan kode password pintu gerbang kepada musuh.

SANG SESAT II
Ampun yang mulia. Tapi menurut saya tidak ada prajurit yang lancang melakukan itu.

DARKONIA
Lalu kenapa perisai bisa sampai jebol?



SANG SESAT I
Saya merasakan ada aura kegelapan yang begitu dahsyat sedang mengintai dan hendak menyerang kerajaan kita.

DARKONIA
Kekuatan yang dahsyat?,, dari mana asalnya aura yang dahsyat itu?.

SANG SESAT II
Indera ke sepuluhku mengatakan kekuatan yang besar itu berasal dari bumi.

DARKONIA
Dari bumi? Planet yang lemah itu? jangan bercanda, dugaanmu itu terlalu berlebihan.

SANG SESAT II
Tidak yang mulia. Indera ke sepuluhku tak pernah gagal membaca segala jenis aura. Kekuatan itu berasal dari penghuni-penghuni bumi. Berasal dari manusia..

DARKONIA
Kurang ajar! Manusia katamu?, jangan sampai kita kecolongan!!, ilmu-ilmu kegelapan yang kita ajarkan kepada mereka, jangan sampai disalah gunakan untuk menyerang balik kerajaan kita. Benar-benar kurangajar, tak tahu malu, tak tahu diuntung!

SANG SESAT I
Maaf yang mulia, dalam kitab kegelapan memang dijelaskan kalau tak ada kode etik dalam praktek kejahatan, jadi kita tak bisa menyalahkan mereka..

DARKONIA
Diam !!! ini tak bisa dibiarkan, aku harus bertemu dengan Jibril. Sampaikan undanganku untuknya..

SANG SESAT I, II
Baik yang mulia..







BABAK II

Djibril memasuki panggung. Sang Cahaya I dan II mengikutinya dari belakang, berjalan pelan mendekati tempayan.

DJIBRIL
Akulah kesucian yang terlahir berabad-abad silam. Akulah anak tunggal keabadian yang terpahat pada dinding kehidupan. Oleh nafasku, kebenaran akan mekar dan terajut di seantero semesta. Atas nama seluruh mahluk bumi, atas nama sang perajut cinta bertumbuhlah dan biarkan kelopakmu menerbitkan pelangi.

SANG CAHAYA I
Tanah yang memutih, hati yang bening
Air yang menyala, nadi yang membara.
Bunga yang mekar, jiwa yang menggema
Bangkitlah wahai penunggu-penunggu nisan
Bangkitlah, bangkitlah dari sang lelap

SANG CAHAYA II
Pulanglah pada matahari, pulanglah pada kerinduan sang bunda, pulanglah.. pulanglah pada cinta. (ketiga perempuan memejamkan mata berdoa, sementara sebatang lilin menyala di tangannya, Sosok Hilang memasuki panggung, seluruh tubuhnya berbalut perban, berjalan tertatih, langkahnya berat)

SOSOK HILANG
Kelahiran, kehidupan, kematian (mengulang berkali-kali) biadab, ini lingkaran setan!, jiwa-jiwa yang luka, hati hati yang patah, iman-iman yang gelisah, doa-doa yang tumbang, aksara-aksara yang menangis (semakin rapuh berkata-kata) memanggang jiwaku, membakar tubuhku, mesias... teteskan,...teteskan.. gerimismu di dalam rahimku.. jika..jika...jika engkau memang ada...

DJIBRIL
Wahai jiwa-jiwa yang luka, hati hati yang patah, iman-iman yang gelisah, doa-doa yang tumbang, aksara-aksara yang menangis, kepadamu kusajikan akad cinta dariNya

SOSOK HILANG
Dari siapa?



DJIBRIL
DariNya

SOSOK HILANG
Siapa dia?

SANG CAHAYA II
Sang Bapa

SANG CAHAYA I
Sang mesias..

DJIBRIL
Terimalah Surat cinta terpanjang dariNya (menyodorkan sebuah kitab, Sosok Hilang menggenggam kitab dengan tangisan yang membahagiakan)



BABAK III
Darkonia duduk di tahtanya dengan perasaan gelisah. Ia mengepulkan rokok dengan gelagat bimbang, geram, tak percaya. Baltasar memasuki panggung.

BALTASAR
Tamunya sudah datang yang mulia

DARKONIA
Suruh masuk (Djibril masuk)

DJIBRIL
Dan akhirnya si sombong itu mau juga mengundangku ke sini

DARKONIA
Dunia selalu berada dalam ketegangan antara kau dan aku. Kita saling membagi dunia. gelap terang, baik buruk, hitam putih, hanya dua sisi mata uang. Yang berhak memperebutkan bumi hanya kita. Mahluk hidup adalah aksesoris yang tak pernah lebih dari serpihan debu. Tapi kini ada pihak lain yang mengancam posisi kita. Ini tidak bisa dibiarkan.


DJIBRIL
Siapa dia?

DARKONIA
Dia,..(ragu mengatakan, namun tak ada pilihan) Dia.. Namanya, Manusia.

DJIBRIL
Takdir tlah mengungkungmu. Sebelum laut bersahabat dengan airmata ketakutan telah secerdik bayangan. Kau selamanya tak akan bisa mengelak pada binasa. Adam, Hawa, bahkan mesias pernah kau cobai. Dan Manusia, mahluk tak berwarna itu, kini membuatmu gelisah.

DARKONIA
Semua ini kubangun dengan susah payah. Dengan keringat dan darah. Tak akan kubiarkan satu mahluk pun merampas tahtaku! Tidak kau,.. tidak juga manusia!

DJIBRIL
Semakin renta, kau semakin lucu saja,..mana mungkin aku berminat dengan kursi tahtamu yang kotor itu. Ingatlah, masa itu telah dekat, setiap bait-bait puisi kan memudar, setiap detak nafas kan berpulang untuk diadili. Ketika jiwa bercampur dengan ketamakan, nafsu menjelma menjadi kebenaran, dan ketika kebenaran tak lagi mempunyai warna. Peperangan, perselisihan, ketakutan, saling bunuh, adalah keniscayaan. Kau, sang sutradara yang licik..

DARKONIA
Dan Manusia, adalah aktor dan aktris yang tak lagi patuh pada sang sutradara,.. Negeri-negeri yang memuja nafsu, telah menjadi nafsu itu sendiri. Aku hanyalah tamu, aku sang penguasa hanyalah tamu, tamu di setiap penjuru negeri..

DJIBRIL
Serahkan tanah kekuasaanmu padaku..

DARKONIA
Sampai langit runtuh, sampai laut menjadi linangan darah, aku tak akan pernah berkompromi denganmu..

DJIBRIL
Serahkan padaku sesuatu yang bukan menjadi hakmu

DARKONIA
(murka)
Jangan pernah berharap!! (Darkonia dan Djibril saling bersahutan dengan kata-kata yang sama)

Sang Manusia, Orang I dan Orang II mendadak masuk.

SANG MANUSIA
Diam!!, Simpan saja omongkosong kalian di dunia omongkosong!! Lumpuhkan mereka!

ORANG I, II
Beres Bos!!
(kedua orang itu menyerang Darkonia dan Djibril dengan buas, mereka terkapar tak berdaya, sang manusia menaiki tahta Darkonia lalu meliuk-liukkan tubuhnya dengan liar, orang I dan Orang II menggumam-gumam dengan buas, Sang manusia meloncat dari atas meja)

SANG MANUSIA
Bawa mereka ke dalam kurungan..(orang I dan II menyeret Darkonia dan Djibril keluar panggung)


BABAK IV

Sang Manusia memasuki panggung. Orang I dan Orang II mengikutinya dari belakang dengan perangai bodoh.

SANG MANUSIA
Hei, kau..merunduk,.. kalian tidak boleh melebihi tinggi tubuhku..mengerti?

ORANG I
Tapi kita kan sama?, sama-sama manusia...

ORANG II
Iya.. sama-sama manusia

SANG MANUSIA
Sekarang aku yang berkuasa. Kalian bawahanku. Mau tahu kenapa? karena koleksi dosa kalian tak sebanding dengan jumlah yang telah berhasil kukoleksi selama ini. Aku pernah membunuh, mencuri, merampok, memerkosa, mengkorupsi uang negara, menghamili istri orang, dan lain sejenisnya. Apa dosa kamu?
ORANG I
Memukul anak kecil sampai menangis..

SANG MANUSIA
Kamu?

ORANG II
Badusta pa Mama

SANG MANUSIA
(tertawa terbahak-bahak) Kau dan kau, CEMEN!!!! (kembali terbahak, ia kemudian duduk di tahta Darkonia, raut wajahnya bengis, orang I dan II memijat-mijat pahanya)
Namaku manusia, lahir sejak dosa masih dalam kandungan, aku, akulah yang melahirkan dosa, apa? Iblis katamu? bukan, samasekali bukan, dosa telah memilih aku sebagai pemegang hak cipta istimewa atas dirinya. Pekerjaanku? Sangat beragam, aku manusia multitalent, tergantung pesanan, dan tergantung mood, kata Darwin aku adalah hewan paling cerdas di muka bumi, aku tersinggung!!,.. apalagi dengan rekayasa murahan yang mengatakan kalau nenek moyangku adalah monyet. Apa aku mirip monyet?

ORANG I
Tidak yang mulia,.. yang mulia sedikit lebih ganteng

SANG MANUSIA
(tertawa terbahak) seret kemari dua mahluk keparat itu (orang I dan orang II menyeret Djibril dan Darkonia yang tampak lusuh dan lemah, mulut mereka tersumpal lakban, mereka terkulai lemah sambil berlutut di tengah panggung, Sang Manusia mendekati lalu mencengkram rambut keduanya) Kau.. sang penguasa kesesatan,. Lihatlah dirimu yang menyedihkan ini, lemah dan tak berdaya, dekil dan kotor, sekarang,.. jabatanmu aku ambil alih, akulah sang kesesatan itu. Dan kau sang pembawa berita kemuliaan, lihatlah dirimu, begitu tolol dan menjijikan. Sekarang citramu aku ambil alih, akulah sang kemuliaan itu. Mulai saat ini tak ada kerajaan surga, tak ada lagi kerajaan neraka, sekarang hanya ada satu kerajaan, kerajaan itu adalah, kerajaan manusia...(tertawa terbahak, orang I dan orang II ikut-ikutan tertawa, Sang Manusia menaiki punggung orang I dan orang II) mari, kita kabarkan ke seluruh penjuru semesta, keperkasaan kerajaan manusia,...

Sang Manusia, Orang I, dan Orang II meninggalkan panggung sambil tertawa bangga.

SELESAI

Erasur (Murkanya Seorang Tuhan)

Greenhill Weol





PROLOG

Sesaat sebelum pentas dimulai, sutradara naik ke panggung untuk membuka pentasnya dengan mengucapkan kata-kata:

“Hidup... apa yang kau tau tentang hidup?

Apa yang kita tau tentang hidup?

Bukan... bukan... (menyangkal dirinya sendiri)

Apa yang AKU tau tentang hidup! (tersenyum dengan pandangan ganjil)

Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, Teater .......... (nama teater yang memainkan naskah ini) dengan naskah karya Greenhill Glanvon Weol, ERASUR! (membungkuk kepada penonton kemudian kembali ke belakang panggung. Lampu Padam. Pentas dimulai)

Satu

Panggung gelap. Di depan seorang lelaki muda duduk di kursi dan kemudian memantik korek api kemudian mulai merokok. Disampingnya ada meja dan beberapa benda yang tak jelas terlihat. Hanya nyala bara rokoknya yang kelihatan.


Lelaki satu:

Untuk apa?

Untuk apa?

(menekankan)

Dari bermilyar-milyar sel dalam tubuhku

Dari segenap tarik nafas dan denyut nadiku

Dari dua puluh empat jam, hari, bulan, tahun, milenium

Aku siapa?…

(diam, kembali terus merokok)

Aku siapa?...

(berbisik)


Di bagian depan kanan seorang terlihat memantik korek api, tetapi yang ini sedang memasang sebuah lentera. Lelaki dengan rokok itu kembali berbicara:


Lelaki satu:

Jika cahaya ada agar gelap sirna,

jika bumi ada agar langit punya saudara,

lantas aku untuk apa?

Untuk apa!

(kesal)


Lelaki dua:

Kau ada karena kau ada

(menyela dengan emosional)

Kau ada karena kau memang ada

Kau ada karena kau harus ada!

Begitu! Mudah dan tak usah kau persulit lagi

(kembali sibuk dengan kerjanya)

Seperti cahaya ini, ia ada lantaran ia memang seharusnya ada...

Ada untuk kau, ada untuk aku...

Ada untuk kita!


Lentera mulai menyala, lelaki yang memasangnya kemudian membawa dan meletakkannya di atas meja. Keadaan mejadi remang-remang oeleh cahaya lentera. Lelaki kedua itu juga menyalakan sebatang rokok. Ternyata di atas meja ada papan catur yang siap di mainkan. Mereka mulai bermain. Tempo permainan sangat lambat. Selang beberapa langkah baru mereka mulai berkata-kata:


Lelaki pertama:

Sekarang jam berapa?

(pelan, serius main)


Lelaki kedua:

Siang atau malam apa bedanya?

(menggeser buah catur)


Lelaki pertama:

Sekarang tahun berapa?

(setelah beberapa saat kemudian, berpikir)


Lelaki kedua:

Sesudah lonceng perang besar kedua...

(mulai tak konsen)


Lelaki pertama:

Sekarang kita dimana?...

(gelisah)


Lelaki kedua:

Pada fajar...

(melirik jam tangan)

Skak!

(menggeser buah catur tiba-tiba)


Lelaki pertama:

Apa maksudmu?

(seolah dicurangi, mengangkat kepala menatap lelaki kedua)


Lelaki kedua:

Kau kalah...

Maksud?

Maksud apa?

(bingung dengan arah pembicaraan, saling tatap)


Lelaki pertama:

Kau belum pernah mengalahkanku

(tertahan sejenak)

Aku ini ada dengan maksud...

(sedikit berbisik)


Lelaki kedua:

Maksud?

(kembali memandangi papan catur)

Mengapa harus ada maksud?


Lelaki pertama:

Jantung adalah maksud, matahari adalah maksud, musim adalah maksud!

(menekankan)


Lelaki kedua:

Heh!

(sinis)

Kentut adalah maksud!

(sejenak berhenti)

Kau tau? Tak semua diciptakan dengan maksud

(suara menuding, serius)

Penyakit misalnya…

(menghembus asap panjang)


Lelaki satu:

Penyakit?

(bingung)

Penyakit tidak di ciptakan, ia di lahirkan, menetas dari rahim dosa, muntahan dari jiwa-jiwa durjana! (terdiam sejenak)

Oo…

(sadar, mulai tersinggung)

Jadi aku penyakit? Begitu?

Imsomnia, paranoia, skizofrenia? Begitu?

Cinta, rasa, eulogia? Begitu?

Kitab, surat, mantra? Begitu?

(berhenti bermain, bersuara keras, mulai marah)

Darah, angin, tanah? Begitu?

Siapa penciptanya, hah!

(menggebrak meja, catur berhamburan)


Lelaki dua:

Ha…ha…ha!

(tiba-tiba terbahak, namun tiba-tiba terhenti dan serius)

Bukan! Bukan begitu maksudku!

(melotot pada lelaki satu)

Kau tau, jumlah bintang selalu sama, tetapi tetap saja setiap hari kita menghitung berbeda.

Daun-daun gugur akan menghamili tanah dengan darah untuk memberi nafas buat tunas-tunas muda!

(berhenti sejenak)

Kau harus mencari apa yang akan menjadi maksudmu…

(berjalan menjauh dan menerawang)


Lelaki satu:

Cari?

Cari apa?

(dengan ekspresi tertarik, seolah tertantang)


Lelaki dua:

Cari apa saja…


Lelaki pertama:

Kemana?


Lelaki kedua mulai melangkah keluar panggung. Sebelum keluar, ia terhenti sejenak karena lelaki pertama kembali berseru:


Lelaki pertama:

Kemana!?


Lelaki kedua:

Kemana saja…

(tak menoleh kemudian meneruskan langkahnya keluar panggung)


Lelaki pertama itu tertegun. Ia berpikir sejenak. Tiba tiba ia seperti teringat sesuatu, ia seolah hendak mengejar laki-laki kedua keluar. Ia bergegas membawa lentera itu keluar. Sambil bergegas, ia berseru:


Lelaki pertama:

Kau dan aku?...

Kau dan aku?...

Kau dan aku!

Kau dan aku!

Kau aku!

Kau aku!

Deus!

Rexus!

Deus!

Rexus!

(mengejar)


Panggung kembali gelap.

Dua

Panggung berangsur terang. Di tengah panggung ada sebuah meja dengan sebuah radio yang tengah menyala dengan suara keras dan sekaleng minuman ringan. Disamping meja ada sebuah kursi kosong. Seorang gadis masuk. Langkahnya gemulai, pakaiannya sexy. Ia kemudian duduk dengan anggun, perlahan ia meraih kaleng minuman itu kemudian membukanya dan meminumnya perlahan sambil menerawang ke depan, menikmati siaran radio. Beberapa saat kemudian lelaki pertama masuk, mendekati meja, kemudian duduk di meja dan mulai berbicara:


Lelaki pertama:

Aku lapar...

(sekenanya sambil mengayun-ayunkan kaki)


Gadis:

Kau tak bisa hidup tanpa makan?

(sambil meraih radio untuk mengecilkan volumenya)


Lelaki pertama:

Sekali-sekali bisa...

(lambat)

Sekali-kali tak bisa...

(menunduk)


Gadis:

Makanlah pada saat kau perlu, bukan saat kau mau... (tersenyum)


Lelaki pertama:

Inikah saatnya?

(seolah mendapatkan kesempatan, menoleh dengan tatapan nakal)


Gadis:

Mudah bukan?

(mengerling menggoda)

Kau hanya perlu meminta, lalu segalanya tersedia

(tersenyum sensual)

Ketuk, lalu pintu akan terbuka...

(membisik sensual)


Lelaki pertama:

Tapi aku perlu mencarinya!

(tak puas)


Gadis:

Kau kan tau semua lekuk dunia!

(mengingatkan)


Lelaki pertama:

Akh..

(kembali tenang)

Hanya kau yang mengerti aku...

(merayu)


Gadis:

Aku bukan kau

(saling bertatapan)

Cuma kau yang tau tentang kau


Lelaki pertama:

Kau tak tau tentang aku?

(mendadak kecewa)

Tapi kau bersamanya melalui waktu!


Gadis:

Aku sendiri...

(mulai terisak-isak)

Selalu sendiri...

Aku sendiri sedari dulu...

(menangis)


Lelaki pertama:

Dia pergi?

(mencoba menatap Gadis itu, kemudian berlutut di hadapannya)

Dia pergi...

(seolah menjawab sendiri pertanyaannya)

Mengapa dia pergi?

(heran)


Gadis:

Setidaknya aku punya kau, kan?

(mencoba berhenti terisak, menyeka airmata, membelai kepala lelaki pertama)


Lelaki pertama:

Aku bukan milik siapa-siapa!

(tiba-tiba bangkit berdiri dan menjauh, menerawang)

Aku bahkan bukan milik diriku...

(menunduk)


Sang Gadis menunduk pula, kembali terisak. Lelaki pertama datang kembali mendekat dan mengeluarkan sehelai sapu tangan dan menawarkan itu kepada gadis itu. Gadis itu mengangkat kepala dan menatapnya dalam-dalam sejenak dan berkata:


Gadis:

Aku tak butuh itu...

(memandang dengan penuh kasih sayang)

Kau...

Kau...


Lelaki pertama itu kemudian jatuh tersungkur dan memeluk gadis itu rapat. Sejenak mereka saling berpelukan erat. Lelaki pertama menggumam:


Lelaki pertama:

Sekarang aku kenyang...

(lambat)

Sekarang aku kenyang...


Gadis:

Manusia memang tak hidup dari roti saja...

Kau...

Carilah itu dulu...

(lembut)


Lelaki itu bangkit perlahan. Mereka bertatapan dan saling tersenyum. Lelaki itu meraih radio dan kembali menguatkan volumenya kemudian melangkah keluar. Gadis itu kembali duduk dan menikmati siaran radio. Lampu memudar.

Tiga

Panggung berangsur terang. Dua sosok sedang membaca koran di satu sisi panggung dengan diam. Mereka berkacamata hitam. Ada yang berdiri, ada yang duduk. Di sisi sebelah ada sebuah kursi kosong dan sebuah meja dengan mesin ketik. Pada saat membalik halaman, mereka melakukannya bersamaan. Kemudian mereka mulai bersahut-sahutan dengan suara lantang:


Sosok satu:

Berita hari ini: sebuah pertanyaan!


Sosok dua:

Berita hari ini: sebuah kebimbangan!


Sosok satu:

Berita hari ini: waktu berlalu!


Sosok dua:

Berita hari ini: yang lalu menjadi terdahulu!


Lelaki pertama tadi masuk dan duduk di kursi kosong dan mulai mengetik lambat-lambat. Wajahnya berat, penuh beban. Ia kemudian menoleh perlahan kepada kumpulan sosok itu dan mengerinyitkan kening dan berkata:


Lelaki pertama:

Apa yang kalian tau?

Apa dengan membaca kalian jadi tau segalanya?

(emosional)

Aku juga membaca!

Aku juga membaca apa yang kau baca!

Aku bahkan membaca apa yang tak tau baca!

(ketus)


Sosok satu:

Lantas, kau jadi tau segala-galanya?

(membalas dengan cepat, tetapi pandangan tetap pada bacaannya)


Sosok dua:

Mengerti segala-galanya?


Sosok satu:

Bisa segala-galanya?


Sosok dua:

Menjadi segala galanya?


Lelaki pertama itu menunduk. Ia menyahut pelan:


Lelaki pertama:

Tidak...

(menelan ucapannya)


Sosok-sosok:

Lantas?

(bersamaan)


Lelaki pertama:

Itu semua agar aku bisa menulis...

(menerawang)


Sosok-sosok:

Menulis apa?

(bersamaan, kali ini semuanya menurunkan bacaan mereka lalu menoleh pada lelaki pertama)


Lelaki pertama:

Menulis apa saja!

(bangkit dan marah-marah)

Menulis segala-galanya!

(menatap tajam ke arah sosok-sosok)


Sosok-sosok:

Untuk apa?

(bersamaan, kaget, )


Lelaki pertama:

Untuk diriku sendiri...

(tak perduli, kembali sibuk mengetik)


Sosok satu:

Untuk dirimu?

Untuk dirimu, katamu?

(berdiri, mendekati lelaki pertama)

Siapa dirimu?


Sosok dua:

Siapa?

(berdiri, namun tidak bergerak)

Kau?

Dia?

(menuding)

Dari mana kau tau kalau kau bukan dia, dia bukan kau?


Lelaki pertama:

Diaaam!

(menyela dengan hardikan)

Kalian tak perlu tau siapa aku!

Kalian tak perlu tau siapa dia!

Hari-hari akan berganti, bulan bintang dan matahari!

Tetapi aku dan dia tak akan pernah mati!

Pergi!

Pergi!

Pergiii!


Dari luar bergegas masuk lelaki kedua dan langsung menantang lelaki pertama dengan kata-kata:


Lelaki kedua:

Mengapa harus pergi?

(menatap tajam lelaki pertama)


Lelaki pertama:

Ya... karena... mereka...

(patah-patah, kaget, seolah tak siap dicecari pertanyaan)


Lelaki kedua:

Mengapa harus pergi?!

(meninggi)


Lelaki pertama:

Eee... seharusnya kan...

(gugup menjadi-jadi)


Lelaki kedua:

Mengapa harus pergi?!!!

(menghardik keras)


Lelaki pertama:

Karena mereka bukan aku!!!

(balas menghardik dengan lebih keras)

Karena mereka bukan kau...

(lambat, menunduk, menghela napas dan menghembuskannya dengan berat.)


Suasana hening mencekam sesaat. Tak ada yang bergerak. Lelaki pertama kemudian melangkah kesamping, menjauhi lelaki kedua, kemudian matanya menerawang jauh.


Lelaki pertama:

Kau sudah lupa...

(lambat, pedih)


Lelaki kedua:

Aku... memilih untuk lupa

(lemah, menunduk)


Lelaki pertama:

Jadi kau masih ingat?

(menoleh, menyelidik)


Lelaki kedua:

Aku ingat apa yang kau ingat...

(saling tatap)


Sosok-sosok itu keheranan, saling pandang. Mereka menatapi koran koran yang di pegangnya. Wajah mereka kecewa. Bersamaan kemudian mereka mengambil korek api dan mulai membakar kertas-kertas itu. Sementara api berkobar, lelaki pertama kembali ke kursinya dan mengetik. Sosok-sosok itu memandangi api itu dengan muka tertekan, sampai api itu padam dengan sendirinya. Lelaki kedua berdiri kaku sambil menunduk. Lampu memudar mengikuti nyala api.

Empat

Lampu menyala. Di panggung lelaki pertama dan lelaki kedua sedang duduk berhadap-hadapan di sebuah meja. Di atas meja ada secangkir kopi yang mengepul hangat. Keduanya sedang menatapi cangkir itu dengan serius. Beberapa saat tanpa suara, kemudian lelaki pertama memulai pembicaraan:


Lelaki pertama:

Mengapa kopi?

(tetap menatap cangkir)


Lelaki kedua:

Ini kehidupan

(tetap menatap cangkir)


Lelaki pertama:

Tau apa kau tentang kehidupan?

(mengangkat kepala, menatap lelaki kedua)


Lelaki kedua:

Tak tau apa-apa...

Selain apa yang diajarkannya kepadaku...

(tetap menatap cangkir)


Lelaki pertama:

Apa itu?

(menggeser tubuh kedepan, mengeringitkan dahi)


Lelaki kedua:

Belajarlah sendiri

(mengangkat muka, menatap mata lelaki pertama)


Lelaki pertama:

Kau mau meracuni aku?

(curiga, menggeser tubuh ke belakang)


Lelaki kedua bangkit dari duduknya. Matanya menerawang ke depan. Ia mau melangkah pergi ketika jemari-jemari lelaki pertama itu mulai bergerak sesenti-sesenti mendekati cangkir di depannya. Bagai mereka punya abadi, cangkir itu dibawa mendekati bibir dan menenggelam muka kedalamnya. Wajah lelaki pertama itu tak berubah oleh rasa. Tak ada segerak otot bahkan yang terhalus sekalipun di tubuhnya. Ia melirih perlahan. Hampir terlalu kabur untuk didengar.


Lelaki pertama:

Mengapa pahit?

Lelaki kedua:

Itu kemurnian

(tegas)


Lelaki pertama:

Maksudmu?

(menoleh, bingung)


Lelaki kedua:

Tak ada gula dalamnya


Lelaki pertama:

Jadi?


Lelaki kedua:

Kopi memang pahit…

Jika ingin manis, tambahkan gula


Lelaki pertama:

Gula...?

(bingung)


Lelaki kedua berjalan keluar panggung. Lelaki pertama dengan kebingungannya kembali menatap cangkir itu. Dari ketidak puasannya ia kembali bertanya dengan berseru:


Lelaki pertama:

Bagai mana jiga aku tak memiliki gula?


Sebuah suara menggema dari luar panggung, suara lelaki kedua, menjawab pertanyaannya:


Lelaki kedua:

Tiap orang punya gula!

Tiap orang punya cinta!


Lelaki pertama:

Cinta, katamu?

(memiringkan kepalanya, keningnya berkerut)

Cinta?

Itu tak berbeda dari kutukan pertama!


Lelaki kedua:

Wanita?


Lelaki pertama:

Anak haram itu rusuk kita!

Dia membuatku mencambuki diriku

Jantungku melompat-lompat

Nafasku menyanyi-nyanyi

Lantas lelah menari-nari!

Kau juga, kan?

(tersenyum mengejek)


Lelaki kedua:

Aku tak mencintainya!...


Lelaki pertama terkejut dan bangkit dari duduknya. Ia menoleh ke belakang, kearah suara lelaki kedua. Lampu mati.

Lima

Panggung berangsur terang. Di atas panggung seorang wanita cantik sedang duduk di sebuah kursi dengan pose yang sedikit menantang. Di hadapannya ada sebuah televisi yang menyala, cahaya layarnya membias diwajah gadis itu. Wajahnya anggun, namun sensual. Bibirnya basah merekah. Ia menonton sambil memainkan rambutnya yang terurai. Lelaki pertama masuk dengan mengenakkan helm yang menutupi mukanya, berdiri di samping kursi wanita itu dan langsung menatap televisi dihadapan mereka. Dengan tidak mengalihkan pandangan dari televisi, mereka mulai berbicara:


Gadis:

Kau...

(tertahan)

Mau pergi?

Hhm...

(tersenyum kecil)


Lelaki pertama:

Aku masih disini

(membuka helmnya cepat, kembali menatap televisi dengan wajah dingin)

Kau?...


Gadis:

Aku akan disini

Tapi bukan menunggu...

Aku Cuma menghitung waktu


Lelaki pertama:

Tanpa lelah?


Gadis:

Waktu adalah sahabatku, ketika aku berhenti, ia juga


Lelaki pertama:

Jika ia terbang, kau juga?


Gadis:

Aku pernah terbang bersamamu...

(suaranya tercekat, berduka. Disaat itu ia menoleh ke atas, ke arah lelaki itu)


Lelaki pertama:

Ya...

(tersenyum getir)

Langit dulu sahabat kita, awan-awan juga...


Gadis:

Aneh bukan, betapa kita menjadi lelah dengan kata-kata... (bangkit berdiri, mendekati lelaki itu dan menyentuh wajahnya dengan kedua telapak tangan. Lelaki itu meletakkan helmnya di kursi)

Lalu jari-jari kita beku...

(melepaskan sentuhannya, menatap jari-jarinya. Tiba-tiba ia seperti terhenyak, mundur selangkah menjauhi lelaki itu dan menatapnya tajam)

Kau penyebabnya, bukan?

(suaranya keras, menuduh)

Kau terbang terlalu tinggi, kemudian matahari melehkan sayapmu!

(kecewa)


Lelaki pertama:

Kau yang menyuruhku...

(seperti hendak menyangkal, namun akhirnya tunduk)

Aku sebenarnya tak suka melayang...

(menerawang)

Aku lebih suka berpelukan dengan bumi...

Rumput, kembang...

Bukit hijau...

Laut...

(kembali menunduk)


Gadis:

Laut?

(menoleh)


Lelaki pertama:

Laut tinggal pada tanah...

(menatap tajam kedepan)


Gadis:

Kau tau berapa dalamnya?

(maju selangkah)


Lelaki pertama:

Kau tau jawabnya... aku juga

(maju kearah gadis itu dan merengkuhnya kedalam pelukan, mereka bertatapan dengan sinar mata takjub. Sejenak mereka saling tatap. Musik lembut bermain. Berpelukan, mereka mulai bergerak mengikuti irama lagu, lembut lalu mulai memuncak. Gerakan mereka mencepat, meninggi, hingga akhirnya terhenti mendadak. Mata mereka bertautan. Keduanya kemudian berciuman. Tib-tiba sang gadis memisahkan tubuhnya, membuang pandang jauh, wajahnya berduka)


Gadis:

Pergilah...

(terengah)

Pergi...

Atau aku yang menghempas bumi...

(lemas)


Lelaki pertama itu hendak meraih tubuh gadis itu lagi namun ia berhenti sendiri. Ia memandang gadis itu dengan tajam, tetapi pandangannya itu cepan jatuh ke tanah. Sekejab ia menyambar helm di kursi berkehendak mengenakkannya, namun terhenti. Ia menatap gadis itu kembali dan berkata:


Lelaki pertama:

Aku... mungkin tak kembali...

(lambat, kecewa)


Gadis itu terkesiap. Tangannya mencoba meraih lelaki itu, namun ia telah membalikkan tubuh, mengenakkan helm dan melangkah keluar, tanpa menoleh lagi. Gadis itu kembali ke kursinya dan seolah tak ada yang terjadi, ia kembali duduk menonton dengan wajah dingin. Lampu memudar.

Enam


Lampu panggung menyala. Lelaki pertama sedang duduk di kursi dan memandangi sebuah handphone dalam genggamannya. Wajahnya bimbang. Akhirnya ia mulai memencet nomor. Setelah menunggu sejenak, Ia mulai berbicara:


Lelaki pertama:

Ada waktu kita menunggu

Ada waktu kita ragu!

Kau dimana?

Kita perlu bertemu

(tegas)


Dari luar panggung masuk sesosok dengan handphone yang sedang ditempel ke telinga dan langsung berbicara:


Sosok satu:

Utara, selatan, timur, barat, sama saja

Aku ada dimana-mana


Lelaki pertama:

Terserah...

Tapi aku masih di bumi, kau tau itu!

(menekankan)


Dari luar panggung masuk lagi sesosok dengan handphone dan langsung berbicara:


Sosok dua:

Mars, Jupiter, Merkurius, Venus, Apha Centauri, atau Eden sekalipun!

Sama saja...


Dua sosok yang baru masuk menempati sisi-sisi panggung. Lelaki pertama bangkit dari duduknya, namun tak bergerak ke mana-mana.


Lelaki pertama:

Aku telah terusir dari Eden!

Bagsat ular itu...

(melemah, seolah menyesal)


Sosok satu:

Kau menyesal?

(serius)


Sosok dua:

Kau gagal?

(serius)


Sosok satu:

Dosa itu nikmat, bukan?

(menggoda)

Hahaha...

(tertawa renyah)


Sosok dua:

Telanjang itu indah, bukan?

(menggoda)

Hihihi...

(tertawa terkikik)


Sosok satu:

Kenangan masa silam tak pernah lekang

Hanya sembunyi dalam kelam


Sosok dua:

Untuk kembali menerkam

Dikala t’lah larutlah malam!


Kedua sosok itu kemudian tertawa-tawa. Lelaki pertama kelihatan kalut, ia menghardik:


Lelaki pertama:

Diam!

(marah)

Jarum jam tak bisa diputar ulang!

Aku hanya mau tidur dalam keabadian!

Malam datang dan pergi, siang silih berganti!

Aku hanya melawan lupa!

Aku hanya melawan lupa!!

Halo!

Halo?

Haloo!?


Seolah putus sambungan, pembicaraan terhenti. Lelaki pertama memencet tombol kembali, namun ternyata tak bisa. Sosok-sosok tadi telah keluar panggung. Ini memancing kemarahannya menjadi-jadi, semakin tinggi. Di tatapnya handphone di genggamannya dan berseru:


Lelaki pertama:

Erasur!


Lelaki pertama itu menghempaskan handphonenya ke lantai sehingga hancur berkeping-keping. Lampu mati.

Tujuh

Lampu panggung menyala. Di tengah panggung ada sebuah meja dan kursi. Lelaki kedua sedang duduk di meja dan memainkan sebuah gitar dengan sebuah lagu blues. Sebatang rokok tersisip di bibirnya dan sekali-kali di tarik-hembus tanpa di pegang. Selang beberapa saat kemudian lelaki pertama masuk dan langsung duduk di kursi. Ia menundukkan kepala tetapi tangannya di sandarkan di meja dan mengetuk-ngetuk meja mengikuti irama dari lagu lelaki kedua. Lelaki kedua menyapa:


Lelaki kedua:

Kau tau lagu ini?

(berbicara dengan rokok terselip di bibir, masih terus memainkan gitar)


Lelaki pertama:

Aku yang menciptanya...

(menyesal)


Lelaki kedua:

Bagus...


Lelaki pertama:

Bagus?

(menoleh pada lelaki kedua)


Lelaki kedua:

Bagus

(meyakinkan, juga menoleh)

Aku suka...


Lelaki pertama

Aku juga suka...

(menerawang)

Setidaknya... kita berdua sama


Lelaki kedua:

Setidaknya... kita belum lupa

(menjepit rokok dengan jari tangannya, kembali memainkan gitar)


Keduanya menerawang. Musik tetap dimainkan. Lelaki pertama kemudian menyanyi mengikuti lagu sampai lagi selesai. Lelaki kedua juga ikut menyanyi. Mereka berdua tampak menikmati kebersamaan mereka dalam menyanyikan lagu itu. Lagu kemudian selesai. Mereka terdiam beberapa saat. Lelaki kedua berusaha berbicara dengan kaku:


Lelaki kedua:

Kau temui mereka?

(menunduk, menggaruk kepala)

Semesta logika yang sedari dulu mengaliri nadimu?

(menoleh)


Lelaki pertama:

Selalu seperti itu...

(menerawang, menoleh ke arah lain)


Lelaki kedua:

Ruang, waktu, dimensi, realita, makna!

Seribu kali kecepatan suara!

Mesin waktu yang nirmakna!

Kita Cuma abu kosmis yang melayang di udara!

(tercekat)

Lantas...

Apa yang tersisa?

(emosional)


Lelaki kedua:

Khaos...

(ragu-ragu)


Lelaki kedua:

Epistel siapa?


Lelaki pertama:

Aku...

(lemah)

Kau..


Lelaki kedua:

Kau tau semua itu?

(melompat turun dari meja, menatap tajam lelaki pertama)


Lelaki pertama:

Aku... kau, bukan?

(menerawang)


Lelaki kedua:

Kau... kenal aku?

(antara amarah dan takjub)


Lelaki pertama:

Kematian tak selalu punya nama!

(bangkit, menantang)


Lelaki kedua:

Tuhan!

Tuhan punya nama!

(marah)


Lelaki pertama:

Apalah artinya sebuah nama?!

(profokatif)


Lelaki kedua:

Bahkan sungai kematian punya nama!

(gugup)

Tiap sel tubuh punya nama!

Dendam pun punya nama!


Lelaki pertama:

Hmh!

(mendengus sinis)

Aku tak pernah percaya diriku...

bahkan semenjak aku lahir!

Kelahiran adalah kematian!

ALPHA ADALAH OMEGA!


Lelaki kedua tiba-tiba menghempaskan gitar yang dipegangnya ke samping dan meloloskan sepucuk pistol dari pinggang belakangnya dan langsung menodongkannya kepada lelaki pertama. Lelaki pertama juga bersamaan meloloskan sepucuk pistol dari pinggangnya dan langsung menodongkannya ke arah lelaki kedua. Mereka saling menodongkan pistol, bersilang lengan, tetapi dengan mimik berbeda, lelaki pertama dengan wajah dingin sedang lelaki kedua dengan wajah penuh amarah, napasnya naik-turun. Sementara konflik diantara mereka meninggi, gadis itu masuk dengan langkah santai dan duduk di kursi dengan gaya seronok kemudian menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dalam, seolah ia tak melihat apa pun yang sedang terjadi di hadapannya. Kedua lelaki tadi juga seolah tak memperhatikan kedatangannya dan tetap dengan konflik mereka.


Lelaki pertama:

Berakhir di sini?

(dingin)


Lelaki kedua:

Membunuh atau terbunuh!

Bau mesiu!

Nyawa yang terbang jauh!

Hahaha!

(gembira)


Lelaki pertama:

Aku atau kau!

(meledak dengan amarah)


Lelaki kedua:

Aku kau!

Kau aku!

(emosional, antusias)

Hahaha!

(tertawa aneh)


Lampu panggung tiba-tiba mati. Beberapa letusan pistol menggema.

Delapan

Lampu panggung menyala. Sosok satu dan dua sedang membaca koran di atas panggung. Sosok satu duduk di kursi, sedang sosok dua berdiri menyandar meja. Tiba-tiba dari kiri-kanan panggung, dari kedua pintu masuk panggung, muncul sorotan sinar senter yang menyilaukan. Masing-masing sinar mengarah kepada muka kedua sosok tadi. Keduanya terkejut dan mencoba menghalangi sinar itu dengan telapak tangan. Seolah ingin mencari tau siapa yang menyinari mereka, keduanya lalu bergerak mendekati arah sinar itu perlahan-lahan. Semakin dekat mereka menjadi lebih curiga. Tiba-tiba mereka terhenyak bersamaan dan jatuh terlentang di lantai. Keduanya kemudian dengan ekspresi ketakutan mulai mundur perlahan-lahan menempeli dinding belakang sambil menyeret kaki. Sosok satu dan dua mulai bergumam ketakutan:


Sosok satu:

Kau...

Tak mungkin...

(gemetar)


Sosok dua:

Ini...

Tak mungkin...

(histeris)


Semakin ketakutan, semakin histeris, mereka bergerak mundur. Lampu tiba-tiba mati. Kedua sosok itu menjerit keras. Beberapa letusan pistol menggema. Senyap.

Sembilan

Lampu menyala. Di panggung gadis itu masih duduk di kursi. Pandangannya menerawang ke depan. Sesekali dia menghirup rokok dalam dan menghembuskan asapnya dengan sensual. Tiba-tiba menoleh ke pintu masuk seolah ada orang di sana.


Gadis:

Siapa?

Kau…

Tak seharusnya kau...

(menoleh ke arah pintu masuk dengan wajah curiga)

Terlalu cepat kau kembali!


Gadis:

Mengapa?

Setelah begitu lama...

Kau juga lupa?

(gugup, bangkit dari duduk, rokoknya terjatuh dari jepitan jarinya, masih memandangi pintu)


Gadis:

Jangan!

(takut, mudur menjauhi pintu, namun tertahan pada sisi meja)

Aku…

Kau…

Dia?…

Mereka juga?

Jangan!

Jangan!!

Jangaaaan!!

(histeris)


Lampu mendadak mati. Beberapa ledakan pistol terdengar. Suara-suara seperti ada pergulatan terdengar. Sebuah gelas jatuh pecah. Beberapa saat kemudian lampu kembali menyala. Gadis itu telah menggeletak di atas meja dengan kepala menggelantung terbalik menghadap ke depan panggung. Dari mulutnya mengalir darah segar yang masih menetes-netes, matanya terbelalak. Di depan meja ada dua sosok yang menggeletak berlumuran darah. Yang satu menyandar pada kaki meja. di bajunya, tepat di dadanya, darah membasah. Sosok lainnya terkapar menelungkup di kaki sosok yang pertama. Di belakang, menyandar pada dinding belakang, ada pula dua sosok yang berlumuran darah. Lampu kembali mati.

Sepuluh (Epitaph)

Panggung masih gelap. Sesosok bayangan masuk dengan merokok. Tidak dapat dikenali karena gelap. Hanya bara rokoknya yang menyala. Ia melangkah lambat ke tengah panggung dan berhenti di sana. Diam. Hanya bara rokoknya yang bergerak-gerak. Terdengar kemudian ia pergi duduk di kursi. Rokok habis dan puntungnya dijentikkan. Kembali gelap. Selang beberapa saat kemudian dia menyalakan sebuah korek api dan menjentikkannya ke sebuah kaleng di depannya yang langsung menyala membesar dengan api yang menjilat-jilat. Keadaan tiba-tiba terang oleh api itu. Di atas meja masih ada tubuh gadis itu. Di depan meja masih ada dua sosok yang menggeletak berlumuran darah. Dan.. yang duduk dikursi... Ternyata... sosok itu... aku. Ya, aku. Aku yang duduk di kursi itu. Aku yang memandang tajam ke depan. Di genggamanku ada sepucuk pistol. Perlahan-lahan aku tersenyum, senyum kemenangan. Aku kemudian menggumam:


Aku:

Pertunjukan...

Usai!...


Api mulai mengecil dan padam. Panggung gelap.


S E L E S A I





Keterangan Tambahan


Pengkarakteran:

Lelaki pertama:

Seorang yang muda yang gelisah, lelah, hampir-hampir putus asa.
Lelaki kedua

Seorang lelaki yang pasti, penuh semangat, beradrenalin tinggi. Alter-ego dari lelaki pertama.
Gadis

Seorang gadis sensual yang pantas dicintai oleh tiap lelaki.
Sosok satu
Sosok dua

Tokoh-tokoh absurd, imajiner. Hadir sebagai teaser lelaki pertama.
Aku

Sang mahatau... sang mahabisa, dalam kisah ini. Sebaiknya diperankan oleh sang sutradara sendiri, atau seseorang yang berperan sebagai “sutradara”. Disarankan juga agar sang sutradara berada di atas panggung dan aktif mengarahkan pengaturan panggung beberapa saat sebelum pentas, agar penonton mendapat kesan bahwa ia memang sutradara.



Stage Setting:


Panggung ditata dengan sebuah meja dan sebuah kursi, set properti lainnya seperti televisi, radio, bungkus rokok, cangkir, catur, dsb. akan di tambahkan sewaktu pergantian babak, pada saat lampu panggung dimatikan. Dinding belakang panggung disinari dengan image-image dari sebuah proyektor (LCD atau slide), atau paling tidak menggunakan sinar dari lampu dengan nuansa warna merah dan/atau kuning . Pencahayaan diusahakan menggunakan lampu atas dengan tata warna warna kuning dan merah untuk memperkuat aura misterius.

Monolog Scizophrenia

Hans Liberty





Babak I

Setting: Sebuah kamar. Subuh.
(Masuk Iblis. Menarik Barol dengan tali jemuran yang terikat di leher Barol)
(Barol berjalan tertunduk)
(Dengan satu tarikan yang kuat, Iblis menghempaskan Barol ke tempat tidur)

Iblis: Heh, biongo!!!
Ngana ini cuma da ta putar-putar sama deng babi pa de pe kandang.
Co ngana lia ni ngana pe diri ni dia...
Ngana pe hidop...
Samua tu ngana ja baking, nyanda ada yang barguna.
Ngana pe hidop ni dia cuma da abis-abis di mengkhayal jo.
Ngana so beking pastiu pa kita!!!
Ngana pangge-pangge pa kita bermain tentang tu rahasia...kong, saban torang somo dapa depe klimaks...ngana user pa kita.
Salalu bagitu.
Salalu...salalu...memang jago ngana...boleh beking kalah pa kita...
Mar baru ngana le kwa tu da se kalah pa kita no.
Sapa ngana sebenarnya?

(jeda)
Ooo...Ngana Yesus.
Ngana so dapa le pa kita...
Ododododoh...so tai ini...
Pe bogo le kita...ta pi coba le pa Anak Domba Allah...
Pantasan kita gagal-gagal trus kalu pa ngana...memang so dinubuatkan...
Minta ampun jo dang...
Soe!!! Pe soe le...
Eh, tunggu!!!
Ngana bukang Yesus...
Tunggu...tunggu...tunggu...ngana bukang Dia!!!
Nyanda mungkin!!!
Mungkin ngana Santo Petrus...
Aaah iyo...ngana pe hati kan karas sama deng karang...
Hmm...nyanda le no...ngana bukang dia...
Sapa ngana e?!... Sapa ngana e?!... Sapa?!... Oooooooooooooooooo...ta tau...ngana ini titisan Kyupid...Hmmpprrrfffh...
Ato mungkin...Ares!!! Dewa Perang!!! Hahahahahaha...
Sori...cuma baku sedu katu'...
Paling ngana masih penasaran pa kita kang?!
Ngana mo suka tau sapa kita?
Dengar bae-bae.
Kita ini malaikat yang Tuhan da utus!!!
Ta pe nama Peryl.
Sebenarnya ngana orang yang dipilih Tuhan!!!
So ngana tu Yang Diutus!!!
Tuhan ada kase satu misi for ngana.
Ngana musti persatukan bangsa Perancis!!!
Itu ngana pe misi!!! Kong kita yang akan mo tuntun pa ngana.
Mmpppffffhahahahahahahaha...Joan of Ark...hahahahahahahahahaha...ngana Joan, Santa tu yang dari Perancis tu dia?!?!?!? Hahahahahahahahhahahahahahahaha...
Eh, biongo!!! Kalu ngana mo suka tau...ngana ada di pa kita pe kerajaan!!!
Hahahahahaha...so ini tu neraka...hahahahahahahaha...
Barol: Bapa kami dalam kerajaan surga dikuduskanlah kiranya namamu datanglah kerajaanmu...
Iblis: Hahahaha...biar mo berdoa le...so nya' barguna!!!
Barol: Bapa kami dalam kerajaan Allah...
Iblis: Ppppppprrrrfffffffffffhh...blunder...
Barol: Bapa kami yang ada di dalam kerajaan sorga dikuduskanlah kiranya namamu datanglah kerajaanmu jadikanlah...jadikanlah...eh...
Iblis: Hahaaaaahahahaha...Nda klar, ta cabu pa ngana!!!
Barol: Bapa kami dalam kerajaan sorga dikuduskanlah kiranya namamu datanglah kerajaanmu jadilah kehendakmu di bumi seperti di sorga...berikanlah kami pada hari ini makan kami yang secukupnya dan ampunilah kami...akan...segala kesalahan kami seperti kami juga telah mengampuni...
Iblis: Ah, memang biongo ngana!!!
Barol: (menangis) seperti kami juga telah mengampuni orang yang bersalah kepada kami dan jangan membawa kami ke dalam pencobaan tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat sebab engkaulah...
Iblis: Sebenarnya ngana ini so mati.
Barol: Sebab engkaulah...sebab engkaulah...engkaulah...yang...(terdiam dan menangis)
Iblis: Sori...so dari tadi...mar memang so ngana pe waktu...
Barol: (Melepaskan ikatan tali yang ada di lehernya dan kembali mengambil sikap berdoa) Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...
Iblis: Capat jo...kita so musti bawa pa ngana skarang.
Barol: Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus... Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...
Iblis: Hahaaa...
Barol: Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus... Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus... Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...
Suara Ibu: (bernyanyi) Betapa hatiku berterima kasih Yesus
Kau mengasihiku Kau memilikiku
Hanya ini Tuhan persembahanku
Segenap hidupku jiwa dan ragaku
Sbab tak ku miliki harta kekayaan yang cukup berarti tuk ku persembahkan.
(Iblis lari keluar melalui jendela)
Suara Ibu: (terus bernyanyi) Hanya ini Tuhan permohonanku
Terimalah Tuhan persembahanku
Pakailah hidup ku sebagai alatmu seumur hidupku.
(Terdengar suara pintu kamar diketuk)
Ibu: Barol, so boleh bangun jo. Mo pigi ngana nyanda?
Barol...
(Masuk Ibu. Begitu masuk langkahnya terhenti setelah melihat Barol yang adalah anaknya sedang berdoa. Ibu keluar perlahan dan menutup pintu)
Barol: Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...



Selesai Babak I

Babak Bonus
Setting: Sebuah kamar. Pagi.
(Barol tertidur di atas tempat tidur)

Suara Iblis: Tunggu ngana!
Suara Barol: Tuhan Yesus. Hahahaaa...
Suara Iblis: Ooo...ba gara pa kita le ngana e...Kiapa, ngana pe kira so apa so tu...
Suara Barol: Tuhan Yesus.
Suara Iblis: Hmm...
Suara Barol: Tuhan Yesus. So kalah ngana blis.
Suara Iblis: Apa? Kalah?
Suara Barol: Tuhan Yesus.

Selesai Babak Bonus