Senin, 15 November 2010

Cerpen karya Cicilia Oday: "Asep"

untuk dean...



AKU kerap menggoda kakakku sebagai kekasih Wiro Sableng. Kak Anya akan mendelik sambil berlagak gusar. Si Asep mungkin seperti Wiro, tapi dia tidak sableng! Begitu katanya, membela sang pacar. Aku mudah cemburu tiap kali kak Anya mulai membela Asep dengan siap patriotik seorang pahlawan. Aku belum pernah membela siapapun selain seekor anak ayam yang nyaris jadi santap siang anjing buduk. Bukankah kita hanya membela sesuatu atau seseorang yang lemah? Walaupun Asep tidak selemah anak ayam, hampir setiap malam kak Anya membela sang pacar di depan Papa dan Mama yang mengatainya macam-macam.

Papa, “Tiap kali melihat mukanya si Asep, Papa seperti melihat langit mendung menjelang hujan. Indikasi masa depan suram. Kasihan perempuan yang dinikahinya nanti.”

Mama, “Nya’, kamu nasihatin ke’ si Asep biar dia mau potong rambut. Kan lebih bagus kalau laki-laki itu rambutnya rapi.”

Kadang-kadang kak Anya memilih bungkam. Bukan sekali itu saja Papa dan Mama ikut campur hubungan kakak dengan Asep. Kak Anya dan Asep telah merajut cinta sejak kuliah tahun pertama. Kini keduanya sudah semester tujuh. Kudengar sebentar lagi kakakku akan menggarap skripsi, sesuatu yang hanya dapat kusebut tanpa kutahu persis benda apa gerangan itu. Papa dan Mama tak sabar ingin mengenakan jas dan kebaya rapi untuk menghadiri acara wisuda putri sulung mereka. Tetapi kepadaku Kak Anya pernah berungkap bahwa betapa ia tak bersemangat untuk lulus cepat-cepat. “Soalnya si Asep masih banyak kredit. Aku mau lulus bareng Asep biar kami bisa wisuda sama-sama.” karena pengakuan ini, aku pernah menyimpulkan bahwa Asep bodoh. Kak Anya berang dan hampir menempeleng mulutku. Ketika itu ia tengah datang bulan sehingga emosinya cenderung labil. Kak Anya bahkan pernah memecahkan piring porselen Mama dengan sengaja sewaktu Papa berkata bahwa Asep kelak menjadi penganguran abadi. Di waktu-waktu biasa Kakakku hanya bergeming menanggapi segala hujat dan cercah yang ditujukan pada pacarnya. Aku pernah memergoki Kak Anya sedang menangis di bawah pohon ketapang tetangga. Ia sengaja tak menangis di rumah sendiri. Tak ingin sedu sedannya nyasar di telinga orangtua. Kudekati kakakku yang menangkupkan wajahnya di antara kedua lutut yang ditekuk. Sambil tetap terisak, kudengar ia meracau.

“Kalau aku tidak selektif, aku pasti sudah pacaran dengan si Pardi, bukan sama Asep. Apa salahnya lelaki rambutnya gondrong? Namanya juga seniman. Dasar orangtua berotak kolot.” Jarang sekali kulihat kakakku menangis. Papa pernah menamparnya sewaktu kakak mengancam akan berhenti kuliah bila tak pula dibelikan laptop sampai semester lima; dan kak Anya tetap tidak menangis. Mama pernah memarahinya hingga penyakit bengek Mama kambuh; mata kakakku tetap kering.

Sore itu, sambil memandangi sosok kakakku di bawah pohon ketapang depan rumah tetangga, benakku memikirkan lelaki yang telah menyulapnya menjadi perempuan cengeng. Aku pernah tak bisa tidur semalaman karena memikirkan lelaki bernama Asep itu. Malam itu juga aku segera melompat turun dari tempat tidur menuju meja tulis, meraih buku gambar dan sebatang pensil. Menggambar sketsa sesosok lelaki berambut sarang burung. Aku menulis ASEP di atas ubun-ubun lelaki kurus jangkung pacar kakakku itu dan menambahi label Seniman di sebelah namanya untuk menghindari dugaan-dugaan lain tentang Asep-Asep yang lain. Asep dalam buku gambarku ini adalah Asep si Seniman, pacar Kak Anya. Aku memperlihatkan gambar itu pada kakakku keesokan hari sebelum ia berangkat menuju kampus. Mata kakakku berbinar cerah. Seperti sebutir bintang yang kusaksikan malam sebelumnya dari balik bingkai jendela kamarku sewaktu sedang menduga-duga sosok Asep dengan ujung pensil. Kak Anya memasukan buku gambarku ke dalam tasnya. Aku sangat bangga mengetahui bahwa ia akan memperlihatkan karyaku pada pacarnya. Pada Asep yang nyata. Lantas sepanjang siang aku kembali membuat sketsa Asep lebih banyak: Asep sedang memegangi gitar sambil mengancungkan jari telunjuk dan kelingkingnya membentuk kepala banteng; Asep sedang berlari mengejar layang-layang; Asep sedang naik sepedamotor; Asep sedang memandikan kucing; Asep sedang buang air besar… Tak satu pun karyaku luput untuk kuperlihatkan pada Kak Anya. Seperti selalu, kakak akan memasukan gambar-gambar itu ke dalam tasnya, dan tak pernah mengembalikannya padaku setelah pulang kuliah. Ia bilang, Asep membawa pulang semua gambarku. Kak Anya menyimpan gambar ‘Asep sedang buang air besar’ untuk dirinya sendiri.



KARENA sungguh mustahil bagi Asep untuk bertandang ke rumah kami, maka sekali waktu kak Anya mengajakku ke kampusnya. Tubuhku masih dibalut seragam putih abu-abu ketika itu. Pipiku memanas ditatap berpasang-pasang mata. Mereka sekadar menatapku, sebelum melengos dengan tak acuh. Sungguh berbeda dengan cara teman-temanku di sekolah menatap orang baru. Kami takkan melepaskan pandangan kami kepada si objek sebelum rasa penasaran terjawab.

Sejak memasuki lingkungan gedung kampus fakultas sastra itu, aku telah bersua tiga orang lelaki berambut gondrong. Entah yang manakah Asep di antara mereka bertiga. Kak Anya tak bertegur sapa dengan mereka, jadi kutahu mereka bukanlah Asep si model sketsaku. Kaki-kakiku kebas setelah menapaki sekian banyak anak tangga dan menyusuri koridor-koridor yang seperti tak berujung. Perjalanan kami berakhir di sebuah ruangan luas serupa auditorium. Aku teringat aula di sekolahku, suatu tempat yang lengang dan bersih dan membosankan. Ruangan luas yang kulihat saat ini memiliki podium di ujung sebelah utara. Kursi-kursi tersebar dalam posisi tak karuan. Sebagian kursi telah pengkor. Kursi-kursi yang masih sehat diabaikan. Sekelompok mahasiswa memilih meja kayu persegi panjang sebagai tempat bertengger pantat-pantat dan kaki-kaki bersepatu kets mereka. Dua di antara para mahasiswa itu berambut gondrong. Aku menduga-duga seorang di antaranya adalah Asep. Salah seorang mahasiswa melambai memanggil kak Anya mendekat. Kakakku mengajak aku bergabung dengan teman-temannya. Kubilang, aku di sini saja. Kak Anya lantas menemaniku berdiri di ambang pintu bagian samping sambil menonton sekelompok mahasiswa di atas podium. “Mereka sedang latihan drama.” kak Anya memberitahu. Aku manggut-manggut, sambil tak berkedip barang sekali pun. Mendadak aku tak mampu melepaskan mata dari sekelompok mahasiswa di atas podium itu. Seorang lelaki berambut gondrong mendekati kami. Kemungkinan dialah Asep model sketsaku, tetapi mendadak ia jadi tak menarik lagi.

“Itu dia burung merak kami.” lelaki gondrong itu menunjuk seseorang di atas podium. Kemungkinan kepada lelaki gondrong yang sedang mengatur-ngatur dua orang mahasiswi. Lelaki gondrong itu tampak sok tahu dan terus membentak, walau kedua mahasiswi telah berakting sebaik yang mereka sanggup. Orang-orang di atas podium itu bertelanjang kaki. Lantai tegel sesekali berdecit tiap kali si lelaki gondrong yang tampak sok tahu itu bergerak secara berlebihan sebagai usahanya menunjukan cara yang paling tepat membawakan peran yang masih tak dapat disanggupi oleh kedua mahasiswi. Aku terhenyak ketika sekonyong ia menyentakan naskah dari tangannya ke lantai podium.

“Si Burung Merak lagi ngamuk. Awas bahaya, bahaya…”

“Namanya Burung Merak?” aku menahan tawa sambil menoleh kepada lelaki gondrong di sebelahku.

“Namanya Asep.” si gondrong nyengir, lantas melirik kak Anya. Ia membuat isyarat memanggil pada Asep dengan tangannya. Asep melenguh saat beranjak turun dari podium, berjalan menuju kami. Aku beringsut lebih dekat pada kakakku, meremas tangannya.

“Pementasan tinggal dua minggu lagi. Tapi mereka belum becus-becus juga.” Asep menggerutu, mengeluh. Bulir-bulir keringat bergelantungan pada pelipisnya. Kak Anya melepaskan tanganku. Dia hendak mengambil tisu dari dalam tasnya. Aku ingin akulah yang menyodorkan tisu itu pada Asep. Tapi tentu saja bukan aku. Asep menolak tisu dari kak Anya, memilih mengusap keringat dengan ujung kaus oblong dan punggung tangannya. Aku menunduk menahan tawa. Kadang-kadang kak Anya bisa begitu bodoh. Sejak kapan makhluk sejenis burung merak menggunakan tisu untuk sekadar mengelap keringatnya sendiri…

Asep masih terus berseloroh menyemburkan kekesalannya pada para anggota teater yang berakting masih tak sesuai harap. Aku ingin bertanya, kenapa tidak mengajak kak Anya berakting, tetapi cemas membuat kakakku malu. Setahuku, (maaf kak Anya) kakakku tidak menyandang bakat seni apapun. Sewaktu melihat namanya terdaftar sebagai mahasiswi fakultas sastra pada sebuah halaman koran, kakak merajuk selama seminggu. Semula ia menetapkan pilihan utamanya di fakultas kedokteran. Alternatif kedua adalah fakultas Mipa. Dengan iseng kak Anya mencantumkan fakultas sastra sebagai alternatif ketiga. Andai namanya tidak keluar sebagai mahasiswi kedokteran, paling kurang ia yakin namanya akan tercantum di kolom fakultas Mipa.

“Sabar Anya… yang bisa kuliah kedokteran itu hanya orang-orang berduit.” Ayah menasihati putri sulungnya yang sedang merajuk.

“Memangnya cuma orang kaya yang mau jadi dokter?!”

Kata ayah, masalahnya bukan siapa yang Mau, melainkan siapa yang Bisa.

Yang membuat kakakku semakin tak bisa terima ialah kenyataan si Jagur yang berotak kaleng blek secara misterius namanya dapat tercantum dalam jajaran mahasiswa yang diterima di fakultas kedokteran.

“Kudengar sampai keluar seratus juta.” kata kakakku, dan betapa terkesan sedang memendam cemburu. Ayah mengelus dada sambil menghela napas. Kami tidak punya uang sebanyak itu. Kak Anya berjanji, seumur hidupnya ia takkan pernah sudi memeriksakan kesehatannya pada dr. Jagur, walau gratis sekalipun. Ada dokter-dokter yang kerap membuat kesalahan fatal dengan meninggalkan peralatan operasi di dalam tubuh pasien. Kak Anya yakin dr. Jagur akan membuat kesalahan yang jauh lebih fatal: sang dokter lupa memasukan kembali jantung atau usus pasiennya setelah operasi selesai.

Satu-satunya bakat yang kuketahui dimiliki oleh kakakku adalah berorasi. Kadang-kadang, tergantung siklus datang bulannya, Kak Anya akan meluap-luap ketika berusaha meluruskan persepsi orangtua kami tentang para lelaki berambut gondrong.

“Wahai sesepuh berotak tempurung, jangan menilai orang dari tampang luarnya saja!!” kira-kira begitu inti orasi kak Anya dalam bahasa yang sudah kuperhalus. Tangannya sesekali terangkat. Matanya nyalang dan suaranya lantang. Ia mengingatkanku pada sosok politikus. Ah, kenapa ia tak diterima saja sebagai mahasiswi ilmu sosial atau hukum. Fakultas sastra mungkin tidak butuh orang-orang yang hanya pintar berorasi tanpa konsep jelas dalam kepala, apalagi tanpa tindakan nyata.

Siang itu Asep dan para anggota teaternya justru tengah sibuk latihan drama untuk pementasan dua minggu depan, dan bukan sedang belajar di dalam ruang kuliah yang pengap. Barangkali itu sebab Asep menumpuk kredit dan menunda kelulusannya. Ia tak dapat menahan diri untuk tidak berekspresi. Seperti kupu-kupu yang terus berkepak sekeluar dari selimut kepompongnya. Lagipula untuk apa cepat-cepat lulus, Sep? Andai aku hanya diijinkan menggambar seumur hidupku tanpa perlu lagi ke sekolah, aku tahu hidupku akan jauh lebih bahagia. Aku bisa memahami jalan pikiran Asep!

“Hey, pelukis.” Asep menyapaku, untuk pertama kali. Pipiku memanas. Asep menggoda kupingku yang semburat merah. Seharusnya pipilah yang bersemu dan bukan kuping. Aneh juga aku ini… Asep menertawai anomali dalam diriku. Tawanya berangsur terbahak. Dari balik pundaknya, kulihat dua orang mahasiwi di atas podium sedang bisik-bisik sambil sesekali melirik pada Asep. Mudah saja menebak bahwa mereka sedang mempercakapkan Asep secara buruk.

Aku turut terbahak. Lelaki gondrong yang tadi memanggil Asep sebagai burung merak mendelik padaku. Kak Anya menegurku. Katanya, anak perempuan tidak baik terbahak dengan mulut menganga lebar.

“Babe, kita lagi di gedung teater sekarang, bukan di dalam gedung DPR.” sindir Asep. Ia berhasil membuat Kak Anya bungkam sambil memendam kesal. Tawaku tinggal cekikan tertahan. Asep masih terbahak, walaupun kini hampir tanpa alasan lagi. Ia lantas menceritakan beberapa peristiwa yang ia kemas menjadi parodi. Aku tertawa menanggapi ceritanya. Asep terbahak semakin keras. Kak Anya menegur kami sebagai orang-orang tak berperasaan sebab menertawai musibah yang menimpa orang lain. Sebagai kesimpulan, kak Anya berkata, aku sudah tertular virus gila pacarnya. Bila gila rasanya adalah tertawa bebas tanpa beban, aku tidak keberatan disebut seperti itu.

Hari berlanjut. Aku tak bertemu Asep lagi selama seminggu. Tetapi setiap hari kami bertemu dengan cara saling bertukar salam dan kabar melalui kak Anya.

“Kak Asep titip salam dan dia bilang dia mau dibuatkan sketsa, dirinya sedang memanjat tebing.” Kak Anya selalu ingin membiasakanku memanggil pacarnya ‘kakak’ sebagaimana caraku memanggil dirinya. Aku mulai melatih lidahku menyebut-nyebut Kak Asep, Kak Asep, Kak Asep… di dalam hati, walaupun masih kerap keceplosan menyebutnya Asep saja. Aku menuliskan ‘Kak Asep’ di atas sketsa bertema ‘Asep sedang memanjat tebing’. Keesokan hari gambar itu dikembalikan Kak Anya padaku. Kata ‘Kak’ di depan nama Asep sudah dicoret spidol hitam.

“Dia maunya ditulis Asep saja.”

Sebagai gantinya kubuatkan sketsa baru yang memperlihatkan Asep sedang berdiri di samping burung merak cantik berbulu lebat nan mekar.

Keesokan hari, aku hampir menjerit melihat Asep berdiri di ambang pintu rumah kami. Kebetulan Papa dan Mama sedang tak di rumah. Asep menguncir rapi rambut gondrongnya di atas tengkuk dan mengganti jins belel sobek-sobeknya dengan jins biru terang yang tampak masih baru dan kaku, untuk berjaga-jaga andai kehadirannya dipergoki calon mertua.

“Gambar burung meraknya bagus sekali. Sejak pertama bakat menggambarmu selalu membuatku terkagum-kagum, Reina. Dasar berbakat. Kenapa bisa terpikir menggambar burung merak?” matanya berbinar saat bicara. Aku tak paham reaksinya. Terlalu berlebihan, menurutku. Tampaknya ia benar-benar mencintai burung merak. Posisi Kak Anya bisa terancam nih… kelak kepadaku Asep menjelaskan bahwa Burung Merak adalah julukan bagi Willybrordus Surendra Rendra atau yang lebih dikenal sebagai W. S. Rendra saja. Sang penyair dan maestro teater Indonesia.

Aku sengaja tak memberitahu Asep tentang lelaki gondrong yang memanggilnya sebagai ‘burung-merak-kami’ dengan nada pongah. Biar saja ia tetap mengira bahwa gambar burung merakku adalah murni buah imajinasiku sendiri, dan bukan karena terinspirasi panggilan si lelaki gondrong temannya.

“Rendra itu adalah inspirasiku, Rei.” kata Asep. Lantas ia bertanya siapakah sumber inspirasiku selama ini. Ketika itu aku belum mengenal satu orang pun komikus Indonesia terkenal. Aku memang membuat sketsa tanpa terinspirasi siapa-siapa.

“Mungkin aku terinspirasi padamu, Sep, karena kamu adalah model sketsaku.” kataku. Asep menyarankan agar sebaiknya aku semakin mengeksplorasi bakat menggambarku dengan mencoba beragam objek yang lebih menarik daripada sekadar dirinya. Menurutnya, bakatku takkan berkembang bila setiap hari aku hanya menggambar dirinya. Hahah!

Di sekolah aku tergabung dalam klub melukis yang dipandu oleh Bu Zaini. Bu Zaini mengidolai Basuki Abdullah. Mungkin seperti Asep yang mengidolai si Burung Merak. Setiap Sabtu, kami menanggalkan perangkat perang belajar menggajar. Semua murid beralih pada kegiatan pengembangan bakat. Kami memiliki ruang kelas khusus yang disulap menjadi studio melukis sekaligus galeri. Seiring pergantian generasi, ruangan itu menjadi terlalu sempit untuk menampung seluruh karya kami. Sebagian karya dipajang di ruang staf guru dan kepala sekolah. Sebagian yang dianggap ‘kurang bernilai seni’ diisolasi di dalam gudang. Tiap kali hendak digelar pentas seni, kami memamerkan semua lukisan terbaik di dalam stan-stan. Lukisan kami laku dengan harga murah. Pernah sekali waktu hujan deras mengguyur malam pentas seni. Terpal stan bocor. Orang-orang kelabakan. Air hujan yang tak tahu diri akhirnya merusak sebagian lukisan yang tak berhasil diamankan. Catnya meleleh. Malam itu tak kurang setengah liter air mataku meleleh sebanyak warna-warna cat lukisan-lukisan itu. Tetapi bukanlah kenangan itu yang membuat aku merenung saat ini…

Bu Zaini terlalu banyak mengatur!

Dan aku tidak suka kelakuannya itu. Mungkin beliau takkan berkeberatanan bila Basuki Abdullah mengintervensi cara kerja alam kreatifnya; Ia mengira aku pun begitu. Seni lukis yang diajari Bu Zaini beraliran realis. Ia minta kami melukis sesuatu objek dengan persis sama. Kami seperti tak pernah melukis tanpa meniru sesuatu objek tertentu. Vas bunga. Kursi. Pohon Nangka. Bugenvil. Kantin sekolah… Kami memang jarang disuruh melukis benda hidup, dan kenyataan itu sungguh menyiksaku. Tak jarang aku akan meletakan kuas dan memilih menggambar sketsa Pak Somad si tukang kebun sedang menyiangi rerumputan di susuran tembok. Bu Zaini pernah mendapati sketsaku. Tak segan ia robek dan menyita pensilku. Ia menyuruhku lanjut melukis dengan kuas dan cat air. Sejak itu aku tak lagi menganggap seni lukis yang diajari Bu Zaini sebagai sarana kebebasan berekspresi.

Dan semua itu kucurahkan di depan Asep, yang menatapku prihatin. Sebersit marah juga tampak di matanya. Kak Anya yang turut mendengarkan curahan hatiku secara sepotong demi sepotong dari balik halaman Cosmopolitan, menasihatiku agar mematuhi saja saran-saran melukis dari guruku sebab betapapun beliau itu adalah seorang guru (mantan muridnya Basuki Abdullah!!), sedang diriku hanyalah pelukis kencur yang masih butuh banyak belajar. Asep membuat isyarat dengan mimik wajahnya agar aku tidak mendengarkan perkataan Kak Anya. Kami cekikikan berdua. Kak Anya menyipitkan mata memandangi kami dari balik majalahnya.



ATAS saran Asep aku bergabung dengan klub teater di sekolahku. Sebenarnya klub creatif writing adalah pertimbanganku yang pertama, paling tidak sebelum kudengar tuturan Asep bahwa, “Menulis itu sama halnya dengan melukis. Prosesnya memang butuh teknik. Tapi sebaiknya bila teknik-teknik dasarnya sudah kita kuasai, kusarankan segeralah menyendiri, menyepi. Menulis dan melukis adalah suatu proses bergelut dengan diri sendiri. Kita tidak butuh orang lain selama proses itu berlangsung. Kata Anya kamu senang membaca. Sebenarnya dari hobi membacamu itulah modal dasarmu untuk menulis. Sedangkan dalam berteater,” wajah Asep mendadak tampak khidmat. Aku mendugai ia sedang memikirkan si Burung Merak. “hmm, dalam berteater kita tidak bisa lepas dari orang lain. Dengar baik-baik ucapanku ini, Reina. Dalam berteater kita mutlak butuh orang lain! Bukan saja ibaratnya seperti penulis butuh para pembaca untuk membaca karya-karyanya, para aktor pun butuh penonton untuk menonton adegan-adegan yang mereka tampilkan, tapi juga karena suatu pementasan nggak akan jalan tanpa kerja sama tim. Dan di lingkungan sekolah itu kamu tidak sendirian. Kamu tak bisa mengelak keberadaan orang lain. Jadi mungkin lebih baik bagimu bergabung di klub teater saja!” kubiarkan Asep menceramahiku panjang lebar tentang hal-hal yang sangat ia kuasai luar kepala. Kubiarkan pikiranku terpola sesuai pikirannya. Bukankah aku memang telah ketularan virus gilanya Asep? Aku sangat bangga mengidentikan diriku dengannya.

Bu Zaini melepas keanggotaanku dari klub melukis dengan bibir tertekuk. Aku hampir urungkan niat untuk meninggalkannya, sebab pada detik-detik perpisahan kami, tampaknya aku menjadi sangat berarti dan berharga baginya. Tetapi saban benakku memikirkan klub teater, sosok kurus jangkung Asep turut bercokol dalam kepalaku. Asep membuat hatiku teguh untuk beralih ke teater.


Kak Selma, sutradara teater Kibul, selalu menyarankan kami agar menukar seragam dengan pakaian bebas tiap kali kami hendak latihan. Tak ada agenda pementasan untuk beberapa bulan ke depan, tetapi setiap Sabtu kami dibiasakan latihan melakoni berbagai peran. Sekolah kami belum memiliki fasilitas mini teater, tetapi kata Pak kepsek, ruang aula dapat kami gunakan sebagai tempat berlatih setiap Sabtu. Sejak bergabung dengan teater Kibul, aku jadi lebih kerap tertawa, bahkan terbahak. Ah, lagi-lagi ingat Asep. Coba dilihatnya diriku sekarang ini. Berkaos oblong kebesaran. Kusimpan sepasang anting emas pemberian ibu dan mengenakan anting metal pada satu saja kupingku. Aku semakin jarang sisir rambut. Siang hari ketika angin mulai berhembus tak karuan, kubiarkan helai-helai rambutku mengembang. Orang-orang menjuluki aku si rambut sarang burung. Aku tak keberatan, sebab Papaku pun menjuluki Asep demikian. Tiga potong jinsku dengan sengaja kusobek pada bagian lututnya. Kucuci jins-jins itu seminggu dua kali untuk membuat warnanya pudar seperti kebanyakan jins Asep.


Semuanya harus serba Asep sekarang!


Kudengar seliweran ejekan yang ditujukan pada diriku. “Si Rei tiap hari Sabtu berubah jadi preman.”

Aku sabar mengelus dada. Bila Asep dihina dihujat oleh orangtuaku, maka aku pun mulai dihina dihujat oleh teman-teman sekolah. Bangga rasanya bahwa aku dapat mengonversi hal-hal negatif itu menjadi positif. Asep juga tahu betapa selama ini Papa dan Mama tak senang dengan penimpilannya yang urakan. Tapi ia tak berniat memangkas rambut dan mengganti kaus oblong dan jins bututnya dengan kemeja dan pantalon. Lantas tak semestinya aku mengubah penampilanku seperti semula hanya karena tak ingin dicerca orang. Ah, namanya juga seniman. Biar pun dari tampang agak tampak seperti preman, tapi kelakuan kami tidak semenyimpang orang-orang yang tak punya kerjaan itu. Kelak akan kukatakan kalimat ini di depan batang hidung mereka. “Woi, para seniman tidak pernah mati gaya!!”

Kak Selma (orang-orang heran mengapa beliau kami panggil kakak dan bukannya Bu Guru—huek!) menunjuk diriku sebagai asistennya. Kontroversi segeralah terjadi.

“Anak baru sudah diangkat jadi asisten sutradara!”

“Mungkin karena si Reina ini pintar cari perhatian sama kak Selma.”

“Kasihan Revan. Padahal dia sudah jadi asisten Kak Selma sejak dua kali pementasan.”


bla, bla, bla…


Kak Selma paham reaksi para anggota teater Kibul. Ia bahkan telah mendugai situasi ini akan terjadi sebelum keputusan diambil. Itu sebab ia minim menanggap selama perlawanan itu berlangsung. Walau begitu sang mentor tak mengubah pendirian. Keputusannya bukanlah tanpa alasan tertentu.

“Revan sudah dua kali terlambat datang latihan. Saya paling benci dengan ketakdisiplinan apalagi bila sebelumnya kita sudah sepakat tentang waktu. Saya bisa saja memilih anggota lama sebagai asisten, tapi dari antara kalian dua puluh dua orang, saya perhatikan kamulah yang paling bersemangat, Rei.” Kak Selma memandangiku. Tersenyum tulus. Mungkin mentorku ini benar, tetapi tak cemaskah ia bahwa kemungkinan besar semangatku ini hanyalah tampak pada permulaan keanggotaanku saja? Panas-panas tahi ayam.

“Tidak, saya lihat semangatmu ini adalah semacam panggilan jiwa. Sekarang sudah hampir satu bulan sejak kamu bergabung dengan Teater Kibul, dan semangatmu masih tetap menyala-nyala.”

Ah, Panggilan Jiwa… frasa yang sangat tepat. Sudah lama aku berusaha mendefinisikan kegilaanku ini terhadap dua dunia yang sedang kugeluti. Menggambar dan berakting.



SEKOLAH kami bubar lebih cepat pada hari Jumat. 11. 30. Kebetulan pada jam itu kak Anya sedang tak ada mata kuliah. Kak Anya atau sesekali Asep mengajakku makan siang di kantin kampus setiap Jumaat siang. Kerap kak Anyalah yang mengajakku bergabung. Kadang pula Aseplah yang bersaran mengajakku datang bila sudah hampir semingga kami tak bertemu, walaupun secara rutin kami masih saling bertukar kabar melalui Kak Anya.

Pertama kali melihat penampilanku yang baru, Asep sangat tampak tak terkesan. Ia bahkan nyaris tak melihat ada perubahan pada diriku.

“Seniman atau bukan itu ditentukan oleh apa yang sudah ia buat, bukan bagaimana ia terlihat.” kata Asep. Aku merasa tersindir. Aku diam saja selama Asep mengoceh. Bukankah dialah yang paling tahu segalanya tentang dunia kami? Ucapan yang mengandung kebenaran tak perlulah kubantah-bantahi lagi. Mendadak, dering hp mengalihkan perhatianku dari proses menyimak. Sms dari Revan.

Rei, kak Selma barusan kecelakaan. Skg kami smua ada di RS XXX.

Melihat perubahan pada raut wajahku, Asep segera menghentikan ceramahnya. “Kenapa, Dek?”

Aku memberitahu isi pesan singkat yang baru saja kuterima. Suaraku nyaris berbisik. Seolah aku tak ingin mendengar kabar buruk itu dari mulutku sendiri. Asep bersedia mengantarku ke rumah sakit dengan sepeda motornya. Kak Anya tetap tinggal sebab sejam lagi kuliah dimulai. Kebetulan Asep tak mengontrak mata kuliah yang bersangkutan. Dari balik punggungnya di atas sepeda motor Asep seperti dapat merasakan kecemasanku.

“Dia pasti baik-baik saja. Tak usah terlalu dipikirkan.”

Kami tiba di RS, tapi masih tak dibolehkan menjenguk pasien di ruang UGD. Aku menghamburkan pertanyaan-pertanyaan yang sudah kubungkam di antara geraham selama perjalanan di atas sepedamotor tadi. Revan kewalahan menjawab. Mungkin ia tahu semua jawabannya, tapi ia gagap meladeni anak perempuan yang sedang menangis. Revan mengusap punggungku. Melihat Asep, ia segera menarik tangannya kembali. Segan. Asep melingkarkan tangannya pada bahuku. Tulang dadanya yang menonjol di balik selapis kulit tanpa lemak menyangga kepalaku sewaktu kusandarkan kepalaku di atas dadanya. Rasanya sungguh tak nyaman.

Sabtu yang menyambut tak lagi menjadi kegairahan bagi kami, anak-anak teater Kibul. Sebagai asisten sutradara, aku minta para anggota tetap berkumpul di ruang auditorium pada setiap Sabtu. Kami tidak latihan memang. Apakah yang dapat kuajarkan pada mereka? Merekalah yang patut mengajariku. Pada Sabtu berikutnya kami menggunakan jeda latihan untuk menjenguk Kak Selma. Kami membawa buah-buahan dan biskuit kaleng. Kak Selma mungkin tahu perihal kedatangan kami, tapi tak dapat menyapa kami dengan mata dan senyumannya. Ia masih koma—koma ringan, kata dokter. Makanan berlimpah di ruang rawat inap menjadi jatah untuk para penunggu. Sabtu-Sabtu yang lewat kami jalani dalam kevakuman. Mendung yang menyaput hati kini bercampur badai kegelisahan. Aku perlu melakukan sesuatu! Jumat siang begitu sekolah bubar, aku menghadap kepala sekolah di ruangannya. Aku memberitahukan tentang kevakuman klub teater kami selama tak ada sang mentor.

“Kalian kan seniman-seniman muda. Seharusnya kalian punya ide-ide kreatif untuk tidak membuat klub kalian jadi vakum.” kata pak kepsek.

“Pak saya punya saran mau mencari pengganti sementara Kak Selma. Kebetulan saya sudah punya calonnya. Dia sutradara teater Begawan yang sudah berkali-kali pentas di berbagai gedung kesenian di kota ini, Pak.” aku merasa seperti seorang sales promotion girl yang sedang promosi produk terbaru.

Pak kepsek mengelus dagu. Gelagat sedang berpikir. Mungkin tentang jumlah honor yang mesti ia bayarkan pada si pengganti sementara kak Selma. Kalau benar alasan itulah yang menghambat pak kepsek untuk menyetujui saran brilianku ini, aku akan membujuk Asep untuk jadi tenaga sukarela saja. Bukankah keuntungan finansial bagi para seniman adalah prioritas ke dua?

“Well, kamu bisa panggil temanmu itu kemari besok. Bapak sih terserah kalian mau panggil pelatih yang mana. Kan kalian yang paling tahu.”

Aku tiba di kampus kak Anya satu jam lebih lambat dari jam makan siang kami. Dari SMSnya kakakku memberitahu bahwa kuliahnya telah dimulai. Ia suruh aku bertemu Asep saja. Dengan mudah kemukan Asep di gedung teater.

“Udah makan siang, Sister? Aku belum. Sengaja tunggu sampai kamu datang.” Asep menyambutku dengan pertanyaan itu.

Aku membawa suatu kabar yang jauh lebih penting daripada sekadar urusan perut, meski aku memang sedang kelaparan. Sambil menunggu pesanan datang, kepada Asep kuberitahukan perihal tujuanku menemuinya. Ternyata sangatlah mudah. Tanpa pertimbangan panjang Asep segera mengiyakan permintaanku. “Kebetulan Sabtu tak ada kuliah.” kata Asep sambil menguncir sejumput rambut di atas tengkuk. Bersiap makan. Aku tak ubahnya api mercon yang siap meledak. Haru dan gembira berpusar dalam dada. Perutku mendadak kenyang. Enggan menyentuh makanan.


Sabtu yang betapa kunantikan tiba. Sepagian hatiku berdebar. Bagaimanakah rasanya menjadi anggota teater yang diasuh oleh teman baikku sendiri? Asep mengenakan kemeja lusuh kebesaran yang dipadu jins hitam tanpa sobek-sobek dan sepatu kets saat datang ke sekolahku. Di kepalanya bertengger baret dari kulit, yang membuatku semula mengira dirinya adalah seorang Putu Wijaya. Pada hari pertama ia menyuruh kami melakukan semacam pemanasan olah vokal dan mimik.

“Seorang dramawan itu harus luwes dan bersuara lantang. Tak perlu jaim. Jangan takut terlihat jelek. Yang terpenting adalah berakting dengan ekspresif.” kata Asep, yang kemudian ikut memeragakan pemanasan itu bersama kami. Asep tak segan menegur bila ada anggota yang tak serius melakukan pemanasan. Bila masih tak becus pula, ia akan membentak. Terakhir ia akan menghardik dan menyebabkan semua orang bergeming. Bahkan diriku yang sudah sangat terbiasa dengan Asep tak urung gentar menerima hardikannya. Kami memang tak pernah terbiasa dihardik atau diperlakukan keras, lebih-lebih oleh seorang lelaki. Kak Selma hanya biasa menegur dan mengomel panjang lebar dengan suara tajamnya yang sekadar menyebabkan efek gatal pada telinga tanpa sedikitpun menghunjam perasaan kami. Pada pertemuan pertama, Asep benar-benar mengesankan dirinya sebagai seorang sutradara bengis tak berperasaan. Teman-temanku menyegani sekaligus membencinya. Mereka memanggilnya Kak Asep dengan sopan. Sebelum berpisah, Asep mentraktir seluruh anggota teater Kibul di kantin sekolah. Asep bercerita sambil mengunyah, tak henti-henti. Kami tertawa dan menyemburkan serpihan makanan dari dalam mulut. Dalam waktu singkat Asep berhasil membalikan persepsi orang-orang tentang dirinya dari seorang sutradara berdarah dingin menjadi seorang kakak mentor yang menyenangkan. Sebagian anggota lelaki pun mulai mencontoh caraku memanggilnya Asep saja. Para anggota perempuan tetap nyaman dengan panggilan Kak Asep. Bahkan Rima dan Osin sengaja memperdengarkan suara kanak-kanak manja sembari tampak sangat ingin bergelayut di lengan-lengan Asep. Pada Sabtu berikut, kudengar Rima menanyakan nomor ponsel Asep. Calon kakak iparku itu tak keberatan memberitahu. Pada jeda latihan mereka kerap bercakap di sudut podium. Aku mengambil jarak sejauh mungkin, tetapi tentu saja telah kuutus Revan untuk menguping pembicaraan mereka. Menurut Revan, Rima memberitahui Asep tentang rencananya masuk fakultas sastra setelah lulus SMA. Asep mendukung rencana Rima, bahkan berharap Rima dapat bergabung dengan Teater Begawan. Rima mengaku bahwa ia adalah pengagum teater Begawan. Omong kosong. Setahuku Rima lebih kerap menonton bioskop daripada menonton pementasan drama manapun.

“Namanya juga orang PDKT. Kita kan anggota teater Kibul, jadi orang-orangnya pandai mengibul.” kata Revan, yang sungguh menikmati kecemburuanku melihat kedekatan Asep dengan Rima.

Asep membagikan naskah drama yang ia adaptasi dari cerita rakyat Jaka Tarub. Rima. Melati. Alin. Osin. Tiwi. Vena. Inggid. Masing-masing mereka kebagian dialog sebagai tujuh bidadari dari kayangan.

Menurut cerita, secara rutin ke tujuh bidadari kayangan mengunjungi bumi untuk sekadar mandi di sebuah sungai terpencil di tengah hutan. Suatu hari seorang pemuda tampan gagah perkasa (mungkin gaya bahasa Asep memang hiperbolis) yang sedang berburu di tengah hutan, mendengar derai tawa merdu yang diselingi kecipak-kecipak air. Rasa penasaran mengantar si pemuda pada sebuah pemandangan yahud tubuh-tubuh putih ketela kupas ketujuh bidadari. Jaka Tarub, nama pemuda tampan nan gagah perkasa itu, menyelusup di balik batu-batu sungai yang bergunduk-gunduk menyembunyikan tubuhnya. Liur Jaka Tarub tergenang di sudut mulut sepanjang menyaksikan acara mandi ke tujuh makhluk nirwana itu.

Apakah di sorga tak ada sungai? (Bodoh sekali pengarang cerita ini). Lantas Ki Jaka diam-diam mencuri sepotong selendang terdekat yang mampu ia jangkau. Bukankah Jaka Tarub digambarkan sebagai sosok pemuda tampan gagah perkasa? Seharusnya ia cukup percaya diri menunjukan sosoknya di depan para bidadari. Siapa tahu ia malah jadi rebutan. Kalau aku jadi Jaka, aku akan turut menceburkan diriku di tengah sungai. Tetapi sebelumnya aku tentu telah menyembunyikan ke tujuh selendang para bidadari, agar mereka tak dapat berkelit saat ketambahan satu anggota lelaki. Jangan harap aku sudi mengembalikan ke tujuh selendang mereka. Biarlah mereka bertujuh kuperistri serentak. Barangkali si pemuda Jaka Tarub akan dikenal sebagai pemrakasa poligami.

Aku terkikik di balik halaman naskahku, hanyut dalam lakon Jaka Tarub versi Reina. Versi modern. Tawaku menyela Rima yang sedang membacakan dialog Nawangwulan. Ketika itu si bidadari Nawangwulan tengah galau menyadari selendangnya hilang.

“Ke RSJ saja buat yang tertawa tanpa alasan. Rima lanjut bacanya.” kata Asep.

Aku menahan diri untuk tak tertawa lagi. Tiba giliran Jaka Tarub bicara. Revan si Jaka Tarub tersendat pada beberapa kata. Aku mulai tertawa lagi. Asep sekonyong menyentakan naskahnya di depan wajahku. Sekujur tubuhku beku.

“Kalau cuma mau main-main bukan di sini tempatnya!” hardiknya. “Kamu kebagian dialog siapa tadi?”

Ya ampun. Padahal ia sendiri yang menunjukku menjadi ibu Jaka Tarub. Tergagap aku menjawab.

“Walaupun bagianmu sudah selesai, jangan ganggu temanmu.”

“Bodoh!!!” umpatku di depan wajahnya.

Kusentakan naskahku di lantai, lantas bergegas beranjak keluar gedung aula. Semua orang bergeming. Asep memecah hening menyuruh para anggota kembali berkonsentrasi pada dialog masing-masing. Aku tak menunggu sampai bel berdentang membubarkan aktivitas sekolah dan segera mencegat angkot untuk pulang.

Kak Anya mendongak dari halaman majalahnya ketika aku tiba di ambang pintu rumah.

“Gimana? mereka masih dekat?”

Ah, persetan. si Asep mau dekat dengan iblis betina siapa aku takkan ambil pusing lagi. Kak Anya cukup cantik untuk beroleh lelaki yang lebih daripada Asep. Aku ingin menyarankan kakakku agar melupakan saja si Asep sebab rupanya orang gila itu telah beralih menggemari jagung muda, tetapi sulit sekali membuat suaraku meluncur keluar tanpa mesti menyertakan getar-getar norak yang tak ingin kudengarkan dalam suaraku. Hanya perempuan cengeng yang menangis tanpa alasan.

Menjelang malam, aku menerima SMS dari Asep. Demikian bunyinya:

‘Aku sdh cukup sabar dgnmu biarpun kamu menyampaikan berita2 bohong yang bikin Anya marah2 pdku. Sebenarnya apa tujuanmu mengarang gosip itu? Apa aku masih kurang baik sama kamu? Jgn sok merajuk padaku, Reina. Tadi aku marah skali krn kmu cma main2 selama latihan. Aku tahu kamu tdk senang krn tdk kebagian dialog slh 1 bida2ri. Asal kmu tahu, meranin ibu si jaka tarub jauh lebih sulit dp peran bida2ri, makanx dialog dan peranx aq jatahkan jd bagianmu. Bls!’

SMS-nya segera kuhapus. Bikin ful saja inbox. SMS kedua menyusul. Isinya kurang lebih sama dengan SMS pertama. Nomor hp Asep kuhapus dari daftar kontak. Ah, lega rasanya. Tetapi cara itu tetap tak dapat mencegah SMS ketiganya masuk. Satu pun SMS-nya tak ada yang kubalas. Asep menelepon. Aku menguap. Kuap kantukku yang pertama. Besok harus ke gereja pagi-pagi sekali. Kumatikan hape dan segera berlalu tidur.



SEORANG diri aku menjengkuk Kak Selma yang telah terjaga dari koma. Beliau menanyakan perkembangan klub teater kami. Aku bercerita seadanya. Kami baik-baik saja. Asep—lukaku merekah menyebut nama sialan itu—melatih kami dengan baik. Minggu depan ada pementasan kecil-kecilan. Kami akan membawakan lakon Jaka Tarub dan selama ini latihan berjalan lancar. Kak Selma tak perlu kuberitahu tentang sakit hatiku, bukan? Tentang getirku melihat Rima yang semula jarang dijatahi peran penting mendadak oleh Asep diberikan peran sebagai Nawangwulan. Kak Selma tak perlu tahu. Tentang kecewaku harus memerankan Ibu si Jaka Tarub yang hanya memiliki sedikit sekali dialog. Kak Selma tak perlu tahu. Tentang si asisten sutradara yang tak banyak lagi diandalkan, sebab sang sutradara sepertinya terlalu mampu melakukan segala sesuatu seorang diri. Kak Selma tak perlu tahu. Tentang Jumat siang yang tak lagi diisi dengan makan bertiga di kantin kampus, sebab sepertinya setiap orang telah sibuk dengan urusan masing-masing…

“Reina, kenapa nangis?” Kak Selma menyentuh punggung tanganku. Aku cepat-cepat mengusap wajah.

Kak Selma tak perlu tahu.



AKU memiliki semua hari dalam seminggu, bukan semata Jumat dan Sabtu. Dua hari yang terlalu mendominasi cerita. Jumat bukan lagi tentang makan siang bertiga di kantin kampus. Sabtu bukan lagi tentang perasaan berdebar menanti latihan. Aku masih gemar membuat sketsa macam-macam objek. Aku mulai coba-coba menulis puisi yang kelak kusodorkan kepada Ibu Sangkuni, guru Bahasa Indonesiaku. Beliau berpendapat, aku cukup berbakat jadi penyair. Cukup. Apakah seorang penyair seharusnya percaya pada bakat? Kata kak Anya, menjadi penyair adalah tentang kemauan besar dan kerja keras, bukan bakat. Tetapi sebagai kakak kau pun tentu akan berucap apapun demi dapat kembali menyambung asa adikmu yang hampir putus, bukan? Mungkin sebaiknya aku bergiat membuat sketsa saja. Lantai kamarku berserakan lembar-lembar kertas gambar. Imajinasiku semakin tak terbendung. Aku rindu Bu Zaini…

Pementasan lakon Jaka Tarub berjalan sukses. Seluruh kursi penonton penuh terisi. Siapa yang tak mau sajian gratis? Di antara kursi-kursi penonton terdapat para staf guru dan wakil kepala sekolah. Tepuk tangan riuh rendah menggema. Seluruh anggota teater Kibul mengisi podium, termasuk sang sutradara yang tak pernah lagi melepaskan baret kulit dari kepalanya. Adik-adik kelas berbisik-bisik. Lihat, lihat, penggantinya Bu Selma keren dan… cool.

Sejak pementasan Jaka Tarub, mendadak klub teater kebanjiran anggota.

Kak Selma sembuh total. Jalannya memang masih timpang, tetapi menurut kepsek, sekolah tak perlu menghamburkan uang membayar pelatih honorer. Kak Selma kembali mengambil alih pengasuhan teater Kibul. Para anggota perempuan siap-siap memendam kecewa. Rima bahkan tampak sembab wajahnya. Sabtu itu para anggota teater Kibul melepas kebersamaan dengan sang sutradara bertopi baret dari ruang auditorium yang telah menjadi rumah bagi kami selama satu bulan lebih. Semua orang bertukar nomor telepon dengannya. Semua orang berfoto-foto dengannya. Semua orang tak mampu memandangnya lebih lama, takut meleleh air mata. Sementara itu berlangsung, seseorang bergeming di sudut sepinya sendiri.

Sabtu-sabtu mendatang akan menjadi hari yang muram berbalut kenangan.

Kudengar ia putus dengan kakakku. Aku tak bertanya kenapa. Takut patah hati. Kak Anya tak menangis sama sekali, kecuali pada malam hari ketika seisi rumah telah pulas bermimpi. Tangisnya menyeret Mama dan Papa dari tidur. Pintu kamar kakak diketuk. Daun pintu tetap rapat mengatup. Menjelang subuh, tangis lirih diganti dengkuran lembut. Kakakku lelah menangis sampai jatuh lelap. Tangis dari kamar yang lain menggantikan.

Genap sebulan tubuh kak Anya kurusan. Bukan karena kini hatinya hanya tinggal separuh, melainkan karena segenap energinya terkuras untuk urusan skripsi. Aku membantunya secara tak langsung. Kubuatkan ia secangkir kopi atau teh manis bila pelupuk matanya mulai memberat pada jauh malam. Sulit tampaknya menjadi kakakku, menjadi seorang mahasiswa. Mungkin sebaiknya aku langsung bekerja saja selulus sekolah. Mama dan Papa pasti takkan suka. Ukuran dari kualitas manusia masa kini adalah ijasah sarjananya, kata Papa. Ada orang yang tak perlu hadir ruang kuliah tetapi memperoleh lembaran ijasahnya dengan begitu mudah. Uang melapangkan segala jalan. Jaman sekarang sekolah atau kuliah identik dengan ijasah. Ijasah identik dengan cari kerja. Tujuan utama menuntut ilmu adalah untuk cari uang. Andai aku punya pohon uang, aku akan berhenti sekolah. Walaupun seumur hidup takkan pernah berhenti belajar. Aku pernah mendengar kata-kata itu dari seseorang.

6 Agustus 2009. Burung Merak itu berpulang ke sangkarnya. Untuk selama-lamanya. Masa itu adalah tahun pertamaku sebagai mahasiswi fakultas sastra. Kami berkabung. Bendera dikibarkan setengah tiang. Tidak berlebihan menganggap Rendra sebagai pahlawan kami. Di tengah lapangan orang-orang membacakan puisi-puisi Rendra secara berganti-ganti. Tiba giliranku. Nyanyian Orang Urakan. Di akhir bait, aku berhenti. Aku ijin ke kamar mandi…

“Hey, pelukis!”

Aku menoleh. “Bapak manggil saya?” eh…

…Bapak. Seragam itu… sangat menipu. Aku mencari tanda-tanda kehadiran dirinya dari lelaki berseragam dinas yang berjalan menghampiriku. Selain senyuman dan binar matanya, aku tak kenal tanda-tanda apapun dari orang itu sekarang. Aku bertemu dirinya yang bukan dirinya. Rambut gondrong. Kaos oblong. Jins butut. Sepatu kets. Tak ada lagi. Kupu-kupu itu telah berinvolusi menjadi kepompong.

“Apa kabar…” ia tersenyum, tapi alisnya mengernyit.

“Kak Anya sudah kawin.”

Ia mengangguk. Ia tentu tak ketinggalan berita.

“Itu kostum buat pementasan apa?” aku menunjuk seragam dinasnya.

“Ini kostum buat cari makan.” ia tersenyum oleh leluconnya sendiri.

Aku lebih kerap menunduk saat berhadapannya dengannya. Serasa sedang menghadapi orang asing yang baru kali pertama bertemu. Mungkin aku dapat mengabaikan seragam dinasnya yang membuat gatal mataku. Tapi aku sangat tak terbiasa menatap wajah tirusnya yang tak lagi dibingkai rambut panjang sebahu.

Ia berencana menyelenggarakan acara bedah buku di kampus almamaternya. Demikian alasan ia berkunjung.

“Kamu sudah beli antologi puisiku yang terbaru?”

“Belum.” aku berbohong; aku telah membacanya berkali-kali.

“Pokoknya kamu harus segera beli biar nanti dapat tanda tanganku di halaman depannya.” Asep terbahak sendiri. Tidak lucu. Aku menunduk menyembunyikan tawaku.

Burung merak kami tak pernah berpulang ke sangkarnya.





~Hadiah yang terlambat datang~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar